Masa kuliah S1 adalah salah satu babak paling berwarna dalam hidupku. Bukan hanya karena di sanalah aku belajar banyak hal tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga karena kampus menjadi tempat aku menemukan begitu banyak pengalaman, persahabatan, perdebatan, dan tentu saja, cerita tentang perasaan.
Sejak awal kuliah, aku memang termasuk mahasiswa yang cukup aktif. Organisasi intra maupun ekstra kampus menjadi bagian dari keseharianku. Bagiku, kuliah bukan hanya datang ke kelas, mendengarkan dosen, mengerjakan tugas, lalu pulang. Ada banyak hal yang bisa dipelajari di luar ruang perkuliahan.
Bersama beberapa teman satu angkatan, kami membentuk sebuah study club. Kegiatannya sederhana, tetapi cukup rutin. Kami berdiskusi tentang berbagai persoalan yang sedang hangat dibicarakan. Mulai dari pendidikan, sosial, politik, agama, hingga persoalan kemahasiswaan.
Kadang diskusi berlangsung di sela-sela jam istirahat kuliah. Kadang kami sengaja keluar kampus, mencari suasana berbeda. Pantai menjadi salah satu tempat favorit. Sesekali kami berkumpul di rumah salah seorang anggota sambil menikmati kuliner khas daerahnya.
Namanya juga mahasiswa. Kalau sudah berkumpul, pembicaraan bisa sangat serius, tetapi urusan makanan tidak pernah boleh diabaikan.
Di antara beberapa anggota study club itu, ada seorang perempuan yang cukup dekat denganku. Namanya Ayu.
Ayu juga seorang perantau dari luar pulau. Mungkin karena memiliki nasib yang hampir sama, kami merasa mudah akrab. Ia cantik, berkulit putih, dan tinggi semampai. Penampilannya cukup menarik perhatian. Tidak mengherankan jika banyak mahasiswa, terutama kakak tingkat, yang menaruh hati kepadanya.
Bahkan, menurut pengakuannya sendiri, beberapa dosen pun pernah menunjukkan perhatian lebih kepadanya.
"Sepertinya aku ini memang punya banyak penggemar," katanya suatu ketika.
Aku tertawa.
"Wah, hati-hati. Jangan sampai nanti ada yang membuat daftar antrean."
Ia mencibir.
"Enak saja. Memangnya aku loket pembayaran?"
Begitulah Ayu. Cantik, tetapi tidak kehilangan selera humornya. Kadang ucapannya menyebalkan, tetapi justru itu yang membuat percakapan dengannya tidak pernah membosankan.
Kami sering berbicara berdua. Mulai dari persoalan kuliah, keluarga, kehidupan sebagai perantau, sampai hal-hal pribadi yang mungkin tidak mudah kami ceritakan kepada orang lain.
Tidak jarang kami berjalan bersama di lingkungan kampus. Kadang sekadar mencari makan, membeli sesuatu, atau duduk di tempat yang agak sepi sambil membicarakan banyak hal.
Lama-kelamaan, orang-orang mulai menganggap kami berpacaran.
"Eh, kalian berdua sebenarnya sudah jadian, ya?" tanya seorang teman.
Aku hanya tertawa.
"Belum. Kami ini teman."
"Teman kok ke mana-mana berdua?"
"Memangnya kalau ke mana-mana harus selalu bertiga?"
Temanku tertawa, tetapi rupanya jawaban itu tidak cukup meyakinkan.
Ayu pun mengetahui kabar tersebut. Anehnya, kami tidak terlalu mempersoalkannya. Kami tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada pengumuman, tidak ada klarifikasi resmi, apalagi konferensi pers di depan mahasiswa.
Bagiku, Ayu adalah teman dekat. Bahkan, lebih tepatnya seperti saudara sendiri. Kami sama-sama perantau. Kami sama-sama jauh dari keluarga. Ada perasaan senasib yang membuat kami saling memahami.
Namun, semakin lama, semakin banyak teman yang memberikan komentar berbeda.
"Min, kamu ini bagaimana, sih?"
"Bagaimana apanya?"
"Ayu itu kelihatannya suka sama kamu."
Aku tertawa.
"Ah, kamu terlalu banyak menonton sinetron."
"Serius! Kelihatan sekali. Kalau kamu tidak segera menyatakan perasaan, nanti dia kecewa."
Aku tidak langsung menjawab.
Sebenarnya, ada sesuatu yang mulai mengganggu pikiranku. Aku memang dekat dengan Ayu. Aku juga merasa nyaman bersamanya. Bahkan, kadang-kadang aku merindukannya ketika beberapa hari tidak bertemu.
Tetapi aku belum pernah benar-benar memikirkan apakah hubungan kami harus berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.
Kami sering bertengkar saat berbicara. Perbedaan pendapat kecil bisa berkembang menjadi perdebatan panjang. Kadang aku merasa ia terlalu keras kepala. Mungkin ia pun berpikir hal yang sama tentangku.
Anehnya, setelah bertengkar, kami tetap mencari satu sama lain.
Kalau beberapa hari tidak bertemu, muncul rasa ingin tahu. Kalau terlalu lama tidak berbicara, ada sesuatu yang terasa kurang.
Apakah itu cinta?
Entahlah. Saat itu aku belum cukup berani memberi nama pada perasaan sendiri.
Sampai suatu hari, sebuah lagu yang sedang populer ikut mengusik pikiranku. Grup band Jamrud sedang banyak digemari. Salah satu lagunya berjudul Jauh.
Entah mengapa, lagu itu terasa cocok dengan situasiku. Seolah-olah ada seseorang yang sedang mengingatkanku bahwa jarak dan ketidakpastian bisa membuat sebuah perasaan terlambat disampaikan. Akhirnya berujung pada penyesalan.
Teman-temanku kembali menggoda.
"Sudahlah, Min. Jangan sampai nanti kamu menyesal."
"Memangnya kenapa?"
"Kalau memang suka, katakan. Jangan cuma bisa berdebat setiap hari."
Aku tertawa, tetapi kali ini tidak sepenuhnya bisa mengabaikan perkataan mereka.
Mungkin benar. Aku tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik alasan bahwa Ayu hanyalah teman.
Aku menyukainya. Hanya saja, aku belum tahu apakah ia merasakan hal yang sama.
***
Suatu hari, tepatnya tanggal 3 November, aku mengajak Ayu pergi ke sebuah pantai.
Awalnya ia tidak menaruh curiga. Namun ia tetap penasaran, karena saat itu bukanlah akhir pekan apalagi masa liburan. Bahkan saat itu kami berdua ada jadwal kuliah di kelas yang sama.
"Kenapa tiba-tiba mengajak ke pantai?" tanyanya.
"Memangnya tidak boleh?"
"Boleh saja. Tumben kamu yang mengajak."
Aku tertawa.
"Sesekali aku ingin menjadi manusia yang punya inisiatif."
"Bagus. Perlu dicatat tanggalnya." Ledeknya tak kalah sengit.
Aku hanya tertawa.
Hari itu pantai tidak ramai, karena suasana hari kerja. Angin laut bertiup pelan. Ombak datang dan pergi, sementara kami duduk berhadapan dengan hamparan laut yang luas.
Kami berbicara tentang banyak hal. Tentang kuliah, teman-teman, rencana setelah lulus, dan berbagai impian yang ingin kami capai.
Namun, ada satu hal yang sejak tadi berputar-putar di kepalaku.
Aku ingin menyampaikan sesuatu.
Beberapa kali aku mencoba membuka percakapan, tetapi selalu gagal. Ada saja kalimat lain yang keluar. Bahkan, sempat terpikir untuk membatalkan niat itu dan kembali menjadi teman seperti biasa.
Ayu akhirnya menyadari kegugupanku.
"Kamu kenapa? Dari tadi seperti orang kehilangan bahan bicara."
Aku tertawa kecil.
"Biasanya kamu yang banyak bicara, sekarang giliran aku yang bingung."
"Memangnya ada yang mau disampaikan?"
Aku menarik napas.
"Ada."
"Apa?"
Aku menatapnya sejenak.
"Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi aku tidak tahu bagaimana memulainya."
Ayu tersenyum.
"Kalau begitu, mulai saja dari awal. Memangnya susah?"
Aku tertawa. Ternyata nasihat paling sederhana justru datang dari orang yang membuatku gugup.
Akhirnya aku memberanikan diri.
"Yu, selama ini kita memang dekat. Kita sering bersama, sering ngobrol, bahkan sering bertengkar. Tapi akhir-akhir ini aku mulai merasa ada sesuatu yang berbeda."
Ayu diam. Ia mendengarkan.
"Aku tidak tahu apakah kamu merasakan hal yang sama. Aku juga tidak ingin membuat hubungan kita menjadi canggung. Tapi aku merasa sudah waktunya mengatakan bahwa aku menyukaimu."
Untuk beberapa saat, Ayu tidak menjawab.
Aku mulai gelisah.
"Kalau kamu tidak punya perasaan yang sama, tidak apa-apa. Kita tetap bisa berteman seperti sebelumnya."
Ia menunduk sebentar, lalu tersenyum.
"Kamu tahu tidak?"
"Apa?"
"Aku sudah menunggu kamu mengatakan itu."
Aku terdiam.
"Serius?"
Ayu mengangguk.
"Iya. Aku kira kamu memang tidak pernah berpikir ke arah sana."
Aku tertawa lega.
"Jadi, bagaimana?"
Ia menatapku sambil tersenyum.
"Bagaimana apanya?"
"Ya, apakah kamu bersedia?"
Ayu tertawa.
"Pertanyaanmu seperti sedang mengisi formulir pendaftaran."
Aku ikut tertawa. Ketegangan yang sejak tadi kurasakan perlahan menghilang.
Dan hari itu, di sebuah pantai, hubungan kami berubah.
Dua orang yang selama ini dianggap pacaran oleh teman-temannya akhirnya benar-benar menjadi sepasang kekasih.
Ketika kembali ke kampus, tentu saja kabar itu segera menyebar. Teman-teman yang selama ini sering menggoda kami merasa mendapatkan kemenangan besar.
"Nah, akhirnya! Apa kubilang?"
Aku hanya tertawa.
Ayu pun tidak kalah senang.
Sejak hari itu, kami menjalani hubungan seperti pasangan mahasiswa pada umumnya. Ada perhatian, ada kerinduan, ada kebersamaan, dan tentu saja, ada pertengkaran.
Kami tetap menjadi dua orang dengan karakter yang tidak selalu sama. Kadang perbedaan pendapat membuat suasana menjadi panas. Tetapi setelah beberapa waktu, kami kembali mencari satu sama lain.
Kami pernah saling diam, tetapi tidak pernah benar-benar betah berjauhan.
Lebih dari setahun hubungan itu berjalan. Kami melewati berbagai kesibukan perkuliahan, kegiatan organisasi, diskusi, dan tugas-tugas akademik.
Sampai akhirnya, hari yang kami tunggu tiba.
Hari wisuda.
***
Hari wisuda menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam perjalanan kami.
Kami akhirnya menyelesaikan pendidikan S1. Setelah bertahun-tahun menjalani perkuliahan, menghadapi tugas, ujian, diskusi, dan berbagai kesibukan kampus, tibalah saatnya kami mengenakan toga.
Orang tua kami hadir. Untuk pertama kalinya, keluarga kami saling bertemu.
Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika melihat orang tua tersenyum menyaksikan anaknya menyelesaikan pendidikan. Di antara keramaian wisuda, aku dan Ayu juga menyimpan harapan yang sama.
Kami ingin hubungan ini tidak berhenti sampai di sini.
Namun, harapan itu belum pernah benar-benar kami bicarakan secara tuntas.
Mungkin karena kami masih muda. Mungkin juga karena kami masih terlalu sibuk memikirkan masa depan masing-masing.
Setelah wisuda, kami kembali ke kampung halaman. Ayu pulang ke daerah asalnya. Aku pun kembali ke kampung halamanku.
Hubungan yang sebelumnya begitu mudah dijalani karena hampir setiap hari bertemu, kini berubah menjadi hubungan jarak jauh.
Long Distance Relationship (LDR)
Pada masa itu, belum ada kemudahan komunikasi seperti sekarang. Tidak ada panggilan video yang bisa membuat kami saling melihat wajah setiap saat. Tidak ada pesan instan yang selalu terhubung dengan internet.
Kami hanya mengandalkan telepon dan SMS.
Kadang aku menunggu pesan darinya. Kadang ia menunggu telepon dariku. Ada saat-saat ketika kami bisa berbicara lama, tetapi ada pula hari-hari ketika kesibukan membuat komunikasi terasa semakin terbatas.
Ayu mulai sering menyinggung masa depan hubungan kami.
"Kalau nanti kita menikah, kamu mau tinggal di mana?" tanyanya suatu malam melalui telepon.
Aku tersenyum, meskipun ia tidak bisa melihatnya.
"Memangnya kamu sudah siap menikah?"
"Ya, aku bertanya saja."
"Belum tahu. Kita lihat nanti."
Jawaban seperti itu sering keluar dariku. Bukan karena aku tidak ingin menikahinya, tetapi karena ada banyak hal yang belum bisa kupastikan.
Aku tahu Ayu menginginkan hubungan yang lebih jelas. Ia ingin tahu ke mana arah hubungan kami. Ia ingin kepastian, bukan sekadar janji yang terus ditunda.
Sementara itu, aku sedang menghadapi kenyataan yang tidak sederhana.
Setelah lulus kuliah, aku belum memiliki pekerjaan tetap. Status ekonomiku belum jelas. Aku masih harus memikirkan bagaimana membangun kehidupan sendiri, apalagi jika kelak harus membangun rumah tangga.
Ada persoalan lain yang juga terus menghantuiku.
Ayu adalah anak tunggal. Jika kami menikah, besar kemungkinan aku harus tinggal bersama keluarganya. Sementara orang tuaku kurang setuju jika aku harus meninggalkan kampung halaman dan menetap jauh dari mereka.
Aku berada di antara dua keadaan yang sama-sama sulit.
Di satu sisi, aku ingin bersama Ayu. Di sisi lain, aku belum memiliki keberanian untuk mengambil keputusan besar dengan kondisi yang belum pasti.
Aku tidak ingin menikah hanya bermodalkan cinta, lalu membuatnya hidup dalam kesulitan karena ketidaksiapanku.
Namun, waktu tidak pernah menunggu seseorang sampai benar-benar siap.
Suatu hari, Ayu mulai bercerita bahwa ada beberapa orang yang datang melamarnya langsung kepada orang tuanya.
Awalnya aku mencoba bersikap biasa.
"Bagaimana orangnya?" tanyaku.
"Ya, ada beberapa. Orang tua juga sudah mengenal mereka."
"Terus, bagaimana menurutmu?"
"Aku belum memberikan jawaban."
Aku terdiam.
Percakapan itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Ayu, tetapi mungkin ia menunggu aku mengatakan sesuatu terlebih dahulu.
Beberapa waktu kemudian, pembicaraan tentang lamaran itu kembali muncul.
Aku semakin gelisah.
Aku tahu Ayu sedang menunggu kepastian dariku. Aku tahu ia ingin mendengar bahwa aku akan datang, menemui orang tuanya, dan membicarakan masa depan kami.
Tetapi aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang belum sanggup kulakukan.
Bukan karena aku tidak mencintainya.
Justru karena aku mencintainya, aku merasa tidak pantas memberikan janji yang belum mampu kutepati.
Aku berusaha mencari pekerjaan. Aku mencoba membangun masa depan. Aku ingin datang kepadanya dengan sesuatu yang bisa membuatnya merasa aman. Namun, keadaan belum berpihak kepadaku.
Pada akhirnya, tibalah sebuah percakapan yang paling tidak ingin kulakukan.
Malam itu, melalui telepon, aku mendengar suaranya.
"Jadi, bagaimana hubungan kita selanjutnya?"
Aku menarik napas panjang.
"Ayu, aku ingin sekali bisa menikah denganmu."
"Kalau begitu, kapan?"
Aku terdiam cukup lama.
"Aku belum tahu."
Di seberang telepon, tidak ada suara.
Aku tahu jawabanku telah melukai hatinya. Namun, aku tidak punya jawaban lain yang lebih jujur.
"Aku belum memiliki pekerjaan yang jelas. Aku juga belum tahu bagaimana menyelesaikan persoalan tempat tinggal dan keluarga. Aku tidak ingin membawamu ke dalam kehidupan yang belum bisa kupastikan."
Ayu tetap diam.
Aku melanjutkan dengan suara yang semakin berat.
"Kalau memang ada orang yang datang melamarmu, dan kamu serta orang tuamu merasa cocok, silakan pertimbangkan. Aku tidak ingin menghalangi masa depanmu hanya karena aku belum sanggup memberikan kepastian."
Kalimat itu keluar dengan sangat berat.
Aku tahu apa artinya.
Aku sedang memberikan izin kepada perempuan yang kucintai untuk menerima pinangan orang lain.
Bukan karena aku tidak ingin memperjuangkannya. Bukan pula karena perasaanku telah berubah. Aku hanya merasa belum mampu menjadi seseorang yang bisa memberinya kepastian.
Ayu tidak banyak bicara malam itu.
Dan sejak saat itu, hubungan kami perlahan berakhir.
Beberapa waktu kemudian, aku mendengar kabar bahwa Ayu akhirnya menikah dengan orang lain.
Aku tidak marah. Aku juga tidak menyalahkannya. Ia berhak mendapatkan kebahagiaan dan kepastian yang selama itu ia tunggu.
Jika ada seseorang yang harus merasa bersalah, mungkin akulah orangnya.
Bukan karena aku tidak pernah mencintainya, melainkan karena aku pernah memiliki kesempatan untuk memperjuangkan seseorang, tetapi tidak cukup kuat untuk memastikan langkahku sendiri.
Aku masih mengingat masa-masa ketika kami berdiskusi di kampus, berjalan berdua, saling menggoda, dan bertengkar karena persoalan-persoalan kecil.
Aku juga masih mengingat pantai tempat aku akhirnya menyatakan perasaan.
Dulu, aku mengira pantai itu menjadi awal dari perjalanan cinta kami.
Ternyata, ia juga menjadi bagian dari kenangan yang suatu hari harus kuterima sebagai masa lalu.
Dan setiap kali lagu Jauh dari Jamrud terdengar, ada satu masa yang kembali hadir dalam ingatanku.
Tentang seorang perempuan bernama Ayu.
Tentang dua perantau yang pernah saling menemukan di kampus yang sama.
Tentang cinta yang pernah tumbuh dengan indah, tetapi tidak cukup kuat menghadapi jarak, keadaan, dan ketidakpastian.



