Rabu, 28 Oktober 2026

Satu Genggaman, Sejuta Kenangan



Aku tidak pernah percaya bahwa cinta selalu datang dengan cara yang istimewa. Bagiku, cinta hanyalah cerita yang terlalu sering dibesar-besarkan oleh penyair, penyanyi, dan orang-orang yang sedang patah hati. Ia bisa ditemukan di dalam novel, dinyanyikan melalui lagu, atau dipertontonkan dalam film-film romantis yang kadang membuat orang menangis hanya karena dua manusia gagal bertemu di sebuah stasiun. Aku sering menertawakan hal-hal semacam itu. Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu sedih hanya karena sebuah perpisahan, sementara hidup masih menyimpan begitu banyak alasan untuk tertawa? Namun, aku lupa satu hal: manusia sering kali menertawakan sesuatu sebelum akhirnya mengalaminya sendiri.

Semua bermula ketika aku diterima mengajar di sebuah sekolah bersama beberapa orang guru baru. Di antara mereka, ada seorang perempuan bernama Ranti. Kami satu angkatan, sama-sama memulai perjalanan sebagai pendidik, sama-sama belajar memahami dunia sekolah yang kadang lebih rumit daripada soal ujian yang kami berikan kepada siswa. Pada mulanya, Ranti hanyalah teman sekantor. Kami bertukar sapa, berbincang tentang pekerjaan, mengeluh tentang tumpukan administrasi, dan sesekali menertawakan tingkah siswa yang selalu punya cara kreatif untuk menguji kesabaran gurunya. Tidak ada yang istimewa. Setidaknya, begitulah yang kuyakini saat itu.

Tetapi, entah sejak kapan, ada sesuatu yang berubah. Aku mulai menyadari kehadirannya dengan cara yang berbeda. Suaranya menjadi sesuatu yang mudah kukenali di antara riuh percakapan guru-guru lain. Senyumnya kadang muncul kembali dalam ingatanku bahkan ketika aku sudah berada di rumah. Hal-hal kecil yang dahulu terasa biasa, perlahan memperoleh makna yang tidak biasa. Jika Ranti datang terlambat beberapa menit, aku mendapati diriku bertanya-tanya. Jika ia tidak masuk kantor karena suatu keperluan, ruangan terasa sedikit berbeda, seperti sebuah lagu yang kehilangan satu nada penting. Aneh memang. Aku yang dahulu menganggap cinta sebagai urusan yang merepotkan, kini justru sibuk mencari alasan agar bisa melihat seseorang lebih lama.

Aku mulai mengenali kebiasaan-kebiasaannya. Cara ia berbicara ketika bersemangat, cara ia tertawa saat mendengar lelucon receh, bahkan caranya mengerutkan dahi ketika menghadapi pekerjaan yang menumpuk. Dan semakin banyak hal kecil yang kuketahui tentangnya, semakin sulit pula aku berpura-pura bahwa semua itu tidak berarti apa-apa. Aku mulai memahami bahwa jatuh cinta tidak selalu diawali oleh petir yang menyambar atau musik romantis yang tiba-tiba terdengar. Kadang-kadang, ia tumbuh diam-diam, seperti akar yang menjalar di bawah tanah. Tidak terlihat, tetapi perlahan mengikat sesuatu di dalam diri kita.

Yang membuat semuanya semakin rumit, aku merasa Ranti pun mulai menunjukkan sesuatu yang serupa. Sesekali, aku menangkap tatapannya yang buru-buru beralih ketika mata kami bertemu. Ia kadang mencari alasan untuk memulai percakapan, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bisa disampaikan melalui pesan singkat. Namun, setiap kali aku merasa cukup yakin, keraguan datang mengacaukan segalanya. Bagaimana jika aku hanya salah mengartikan keramahan? Bagaimana jika perasaanku justru membuat suasana kantor menjadi canggung? Aku tidak ingin kehilangan kenyamanan yang sudah ada. Maka, seperti seorang pengecut yang pandai menyusun alasan, aku memilih diam.

Barangkali Ranti pun menyimpan ketakutan yang sama. Kami seperti dua orang yang berdiri di seberang jembatan, sama-sama ingin menyeberang, tetapi menunggu siapa yang lebih dahulu melangkah. Kami berbicara tentang banyak hal, kecuali tentang apa yang sebenarnya ingin kami bicarakan. Kami tertawa bersama, tetapi menyembunyikan debar yang tak pernah ikut tertawa. Di hadapan rekan-rekan guru, kami hanyalah dua teman satu angkatan. Tidak lebih. Tidak kurang. Padahal, jauh di dalam hati, aku mulai menyimpan harapan yang bahkan belum berani kusebut sebagai doa.

Aku tidak tahu kapan tepatnya Ranti mulai menjadi bagian dari hari-hariku. Yang kutahu, sejak mengenalnya, ada alasan baru untuk berangkat ke sekolah dengan hati yang sedikit lebih ringan. Aku mulai menyukai pagi bukan hanya karena udara yang masih sejuk, melainkan karena kemungkinan bertemu dengannya. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa seseorang bisa mengubah suasana sebuah tempat tanpa harus mengubah apa pun di dalamnya. Ruangan itu tetap sama. Meja-meja tetap berjajar, papan tulis tetap dipenuhi coretan, pekerjaan tetap menunggu diselesaikan. Hanya hatiku yang diam-diam berubah.


***


Suatu hari, Ranti menyarankanku menonton sebuah drama Korea yang sedang ramai dibicarakan orang. Ia menceritakan jalan ceritanya dengan penuh semangat, lengkap dengan tokoh-tokoh yang menurutnya menarik, adegan yang mengharukan, dan kisah cinta yang katanya sulit dilupakan. Aku mendengarkannya sambil sesekali mengangguk, meskipun dalam hati aku bertanya-tanya mengapa orang bisa begitu bersemangat membicarakan drama yang episodenya lebih panjang daripada daftar tugas administrasi sekolah.

"Ayo, ditonton, deh. Bagus banget ceritanya," katanya suatu ketika.

Aku mengangkat alis. "Aku? Nonton drama Korea? Kamu yakin tidak salah menyuruh orang?"

Ranti tertawa. "Memangnya kenapa? Guru juga manusia, kan? Bukan cuma bisa bikin soal ujian."

"Kalau begitu, aku tunggu drama yang tokoh utamanya guru. Minimal ada adegan mengisi rapor dan mengejar siswa yang belum setor tugas."

Ia tertawa semakin lepas. Dan entah mengapa, tawanya membuatku ingin terus melontarkan lelucon-lelucon bodoh, meskipun aku tahu kualitas humorku kadang hanya cukup untuk membuat orang menghela napas panjang.

Akhirnya, aku menonton drama yang direkomendasikannya. Bukan karena tiba-tiba aku menjadi penggemar drama Korea, melainkan karena ada satu hal sederhana yang tak sanggup kuabaikan: Ranti yang menyuruhku menontonnya. Aku ingin mengetahui apa yang membuatnya begitu menyukai cerita itu. Aku ingin punya sesuatu untuk dibicarakan dengannya. Barangkali, tanpa kusadari, aku sedang mencari jalan menuju dunianya, meskipun jalan itu harus melewati belasan episode dengan takarir yang sesekali kubaca dua kali.

Namun, sesuatu yang tidak kuduga terjadi. Aku benar-benar larut dalam cerita tersebut. Adegan demi adegan menelusup ke dalam pikiranku. Tokoh-tokohnya terasa dekat, konflik mereka menyentuh sesuatu yang selama ini tidak kusadari keberadaannya di dalam diriku. Aku yang biasanya merasa cukup rasional, mendapati diri sendiri terdiam di depan layar, sesekali tersenyum, sesekali menghela napas, dan pada satu adegan tertentu, mataku terasa panas. Aku bahkan sempat melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang yang menyaksikan seorang guru yang selama ini sok tangguh ternyata kalah oleh drama Korea.

Setelah drama itu selesai kutonton, ceritanya masih tertinggal selama beberapa hari. Ada adegan yang berulang kali muncul di kepala, ada dialog yang mendadak kuingat saat sedang mengajar, dan ada perasaan yang sulit kujelaskan ketika mendengarkan lagu pengiringnya. Lebih dari itu, aku mulai menyadari sesuatu yang membuatku sedikit gelisah: mungkin bukan hanya cerita drama itu yang sedang menyentuh hatiku. Mungkin aku sedang menemukan diriku sendiri di antara tokoh-tokohnya. Mungkin ada perasaan yang selama ini kupendam, lalu perlahan menemukan bahasanya melalui kisah orang lain.

Ketika akhirnya kuceritakan pengalamanku kepada Ranti, ia tersenyum dengan wajah penuh kemenangan.

"Nah, bagaimana? Bagus, kan?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Bagus. Bahkan terlalu bagus. Sekarang aku curiga kamu sengaja menyuruhku menonton itu supaya aku ikut-ikutan galau."

"Memangnya kamu galau?"

Aku terdiam sesaat. Pertanyaan sederhana itu terasa seperti seseorang mengetuk pintu yang selama ini kujaga rapat-rapat.

"Belum tentu," jawabku, berusaha tenang. "Mungkin hanya efek samping kebanyakan menonton."

"Alasan," katanya sambil tertawa kecil.

Aku ikut tertawa, tetapi dalam hati aku tahu, ada sesuatu yang perlahan terbuka di antara kami. Drama Korea itu kemudian menjadi bahan percakapan yang hampir selalu berhasil menghidupkan suasana. Kami membicarakan tokoh-tokohnya, menebak akhir ceritanya, memperdebatkan keputusan yang diambil para pemerannya, bahkan sesekali mengutip dialog yang menurut kami paling menyentuh. Anehnya, semakin sering kami membicarakan kisah cinta orang lain, semakin mudah pula kami menyentuh perasaan kami sendiri tanpa harus menyebut namanya secara langsung.

Dari drama itulah muncul panggilan yang kemudian menjadi milik kami berdua. Ranti mulai memanggilku oppa, sebutan Korea untuk kakak laki-laki, sementara aku memanggilnya dongsaeng, yang berarti adik. Panggilan itu awalnya hanya gurauan. Aku merasa lucu saja mendengar seorang guru memanggil rekannya dengan sebutan yang terdengar seperti dialog dalam drama. Namun, lama-kelamaan, panggilan itu menjadi semacam bahasa rahasia. Ada kelembutan yang tidak kami temukan dalam sapaan biasa. Ada kedekatan yang tidak perlu dijelaskan kepada siapa pun.

"Oppa, sudah makan?" tanyanya suatu siang.

"Sudah, dongsaeng. Kenapa? Mau mentraktir?"

"Baru juga ditanya, sudah minta traktir. Dasar!"

"Namanya juga oppa. Harus menjaga tradisi."

Ia tertawa, lalu menggelengkan kepala. Aku pun tertawa. Tetapi, setelah percakapan itu selesai, ada sesuatu yang menetap di dalam dada. Betapa sederhana sebuah pertanyaan, betapa biasa sebuah jawaban, tetapi ketika datang dari seseorang yang kita sukai, keduanya bisa berubah menjadi sesuatu yang ingin kita simpan lebih lama.

Sejak itu, kami mulai berani mengungkapkan perasaan melalui hal-hal kecil. Tidak ada pengakuan yang megah, tidak ada rangkaian bunga, tidak ada kalimat cinta yang diucapkan dengan suara bergetar di bawah cahaya bulan. Yang ada hanyalah percakapan sederhana, perhatian yang tumbuh tanpa diminta, dan lagu-lagu yang kami putar di ruangan tempat kami bekerja. Karena berada dalam satu ruangan yang sama, kami sering mendengar musik yang dipilih masing-masing. Kadang aku memutar lagu dengan lirik yang diam-diam mewakili perasaanku. Kadang Ranti melakukan hal serupa. Kami tidak selalu membicarakan maknanya, tetapi sesekali tatapan kami bertemu setelah sebuah bait selesai dinyanyikan.

Aku mulai memahami bahwa ada kalanya seseorang tidak membutuhkan keberanian untuk berkata, "Aku menyukaimu." Ia hanya membutuhkan sebuah lagu, sebuah tatapan, atau sebuah kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung agar orang yang tepat dapat menyelesaikannya sendiri.

Dan Ranti, entah bagaimana, selalu mengerti.

Pada masa itu, lagu-lagu terasa lebih jujur daripada mulut kami. Lirik tentang rindu menjadi pesan yang tak terkirim. Lagu tentang seseorang yang menunggu menjadi pengakuan yang tak berani diucapkan. Bahkan lagu sedih yang dahulu kuanggap berlebihan kini terdengar seperti sesuatu yang pernah kualami, meskipun aku belum pernah benar-benar kehilangan siapa pun.

Kami semakin dekat. Perasaan yang dahulu hanya bersembunyi di balik percakapan kini mulai terlihat dari cara kami saling memperhatikan. Aku tahu ia memiliki perasaan yang sama, sebagaimana ia mungkin mulai menyadari perasaanku. Tidak ada yang benar-benar mengatakannya secara gamblang, tetapi ada saat-saat ketika diam terasa jauh lebih jelas daripada kata-kata.

Aku mulai percaya bahwa mungkin, hanya mungkin, aku dan Ranti sedang menuju sesuatu yang indah. Sesuatu yang belum memiliki nama, tetapi telah memiliki tempat di dalam hati kami masing-masing.

Aku tidak tahu bahwa waktu sedang menyiapkan sebuah perjalanan yang kelak akan menjadi salah satu kenangan paling berharga dalam hidupku. Sebuah perjalanan yang tidak hanya membawa kami ke kota lain, tetapi juga membawa perasaan kami ke tempat yang belum pernah kami datangi sebelumnya.


***


Sekolah kami kemudian mengadakan kegiatan studi tur ke luar kota bagi siswa-siswa yang akan menyelesaikan pendidikan mereka. Kegiatan itu dirancang sebagai pengalaman belajar sekaligus kesempatan bagi para siswa untuk mengenal tempat-tempat baru sebelum meninggalkan bangku sekolah. Para guru ikut mendampingi, termasuk aku dan Ranti. Awalnya, aku menganggapnya sebagai kegiatan sekolah biasa. Aku membayangkan perjalanan panjang, siswa yang ramai, jadwal kunjungan yang padat, dan tugas mendampingi rombongan agar semuanya berjalan lancar. Tidak ada yang kupikirkan secara khusus, sampai hari keberangkatan tiba dan sebuah kejutan kecil mengubah seluruh suasana hatiku.

Ternyata, aku dan Ranti berada di bus yang sama. Bukan hanya itu, kami duduk bersebelahan.

Aku sempat memastikan nomor kursi beberapa kali, seolah-olah ada kemungkinan tulisan di tiket itu berubah jika kubaca terlalu lama. Namun, kenyataannya tetap sama. Kursiku di samping kursinya. Jarak antara kami hanya selebar sandaran tangan, tetapi di dalam dadaku, jarak itu terasa seperti sebuah dunia yang penuh kemungkinan.

"Eh, ternyata kita satu bus," kata Ranti sambil tersenyum.

"Iya," jawabku, berusaha terdengar biasa saja. "Sepertinya panitia tahu siapa yang paling cocok menjadi teman perjalananmu."

"Memangnya siapa?"

"Ya, orang yang kuat menghadapi banyak pertanyaan."

Ranti tertawa. "Pede sekali, Oppa."

Aku ikut tertawa, meskipun sebenarnya jantungku sedang bekerja lebih keras daripada seorang guru yang baru menyadari bahwa soal ujian yang dibagikannya salah cetak. Aku berusaha bersikap wajar. Aku merapikan tas, memeriksa ponsel, melihat ke luar jendela, lalu kembali melihat ke depan. Semua kulakukan agar tidak terlalu sering menoleh kepadanya. Sayangnya, semakin keras aku berusaha terlihat tenang, semakin jelas pula aku menyadari kehadirannya.

Perjalanan dimulai dengan suasana riuh. Siswa-siswa bernyanyi, bercanda, mengambil foto, dan sesekali bertanya berapa lama lagi kami akan sampai. Para guru berusaha menikmati perjalanan sambil tetap menjalankan tugasnya. Di tengah keramaian itu, aku dan Ranti berbincang tentang banyak hal. Kami membicarakan sekolah, siswa, makanan, tempat-tempat yang ingin dikunjungi, dan tentu saja drama Korea yang seakan-akan tidak pernah kehabisan bahan untuk dibicarakan. Sesekali ia menunjukkan sesuatu di ponselnya. Sesekali aku membuat lelucon yang membuatnya tertawa. Dan setiap kali tawanya terdengar, aku merasa perjalanan itu menjadi sedikit lebih singkat.

Kami akhirnya tiba di kota tujuan, sebuah kota provinsi yang lebih ramai daripada tempat kami tinggal. Agenda kegiatan berlangsung cukup padat. Kami mengunjungi sejumlah tempat, mendampingi siswa, dan memastikan mereka tetap mengikuti jadwal. Namun, ada satu bagian perjalanan yang paling kuingat, yaitu ketika rombongan mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan. Di sana, setelah memastikan urusan pendampingan siswa berjalan baik, aku dan Ranti memiliki kesempatan untuk berjalan bersama, melihat-lihat toko, berbelanja barang-barang kecil, lalu mencari tempat makan.

Bagi orang lain, mungkin itu hanyalah kegiatan biasa. Dua orang teman kantor pergi ke mal, membeli sesuatu, lalu makan bersama. Tidak ada yang istimewa. Namun, bagiku, hari itu terasa seperti halaman baru dalam sebuah buku yang diam-diam sudah lama kutulis di dalam hati.

Kami berjalan menyusuri lorong-lorong pertokoan. Ranti sesekali berhenti di depan etalase, menunjukkan barang yang menarik perhatiannya, lalu bertanya pendapatku. Aku menanggapinya seolah-olah aku seorang ahli, padahal sering kali aku bahkan tidak tahu perbedaan antara barang yang satu dan yang lain.

"Menurut Oppa, yang ini bagus atau yang itu?" tanyanya sambil mengangkat dua benda dengan warna berbeda.

Aku mengamati keduanya dengan serius, seolah-olah sedang menilai hasil ujian akhir.

"Yang ini," jawabku akhirnya.

"Kenapa?"

"Karena kalau kamu memilih yang itu, aku takut kamu akan bertanya lagi sampai besok."

Ranti tertawa sambil memukul pelan lenganku. "Dasar, tidak bisa serius!"

Aku ikut tertawa. Namun, dalam hati, aku justru ingin waktu berjalan lebih lambat. Aku ingin percakapan-percakapan kecil itu berlangsung lebih lama. Aku ingin mengingat caranya tersenyum ketika menemukan sesuatu yang disukainya, caranya menoleh ketika memanggilku, dan caranya berjalan di sampingku seolah-olah tidak ada hal istimewa yang sedang terjadi. Padahal, bagiku, berada di sampingnya saja sudah cukup untuk membuat hari itu terasa berbeda.

Kami makan bersama. Obrolan mengalir tanpa dipaksa. Sesekali kami membicarakan teman-teman guru yang lain, lalu tertawa membayangkan bagaimana jika mereka mengetahui betapa gugupnya aku hanya karena duduk bersebelahan dengannya. Aku bahkan sempat berpikir bahwa jika cinta memang bisa diukur melalui detak jantung, mungkin saat itu aku sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan surat keterangan dari dokter.

"Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanyanya tiba-tiba.

"Memikirkan sesuatu."

"Apa?"

"Memikirkan betapa mahalnya biaya hidup di kota ini."

Ranti menyipitkan mata, tidak percaya. "Bohong."

Aku tersenyum. "Kalau aku bilang yang sebenarnya, nanti kamu malah tertawa."

"Memangnya apa?"

Aku ingin menjawab, Aku senang sekali bisa menghabiskan waktu bersamamu. Namun, kalimat itu hanya berhenti di ujung lidah. Aku takut merusak sesuatu yang terasa begitu indah justru karena belum sepenuhnya terucapkan. Maka, sekali lagi, aku memilih menyembunyikan perasaanku di balik sebuah senyum.

Hari itu berlalu terlalu cepat. Kami kembali Bus untuk melanjutkan kegiatan sesuai jadwal. Tetapi, setiap kali aku mengingat perjalanan kami ke mal, aku selalu tersenyum sendiri. Ada sesuatu yang berubah dalam kedekatan kami. Kami tidak lagi sekadar dua orang yang saling berbagi lagu atau membicarakan drama Korea. Kami telah berbagi waktu, langkah, tawa, dan ruang yang terasa semakin dekat.

Aku mulai berpikir bahwa mungkin cinta memang tidak selalu membutuhkan peristiwa besar untuk tumbuh. Kadang, ia hanya membutuhkan kesempatan untuk berjalan berdampingan, menunggu pesanan makanan, atau tertawa karena lelucon yang sebenarnya tidak lucu. Hal-hal sederhana itu, ketika dilakukan bersama orang yang tepat, bisa menjelma menjadi kenangan yang kelak kita rindukan dengan cara yang sulit dijelaskan.

Namun, di antara semua momen dalam perjalanan itu, ada satu peristiwa yang tidak pernah benar-benar bisa kulepaskan dari ingatanku. Sebuah kejadian singkat yang berlangsung tanpa rencana, tanpa persiapan, dan tanpa satu pun kata yang sempat kami siapkan.

Peristiwa itu terjadi dalam perjalanan pulang.

Malam telah turun ketika bus mulai bergerak meninggalkan kota. Kelelahan membuat para siswa dan guru perlahan terlelap. Suasana yang sejak pagi dipenuhi suara nyanyian, tawa, dan percakapan kini berubah menjadi senyap. Lampu-lampu jalan melintas di balik jendela seperti garis-garis cahaya yang bergerak menjauh. Sebagian penumpang tidur dengan kepala bersandar pada kaca. Sebagian lain memeluk tas masing-masing. Sopir tetap fokus menatap jalan, sementara bus melaju menembus gelap menuju kota tempat kami memulai perjalanan.

Aku masih terjaga. Ranti duduk di sampingku. Kami tidak banyak berbicara. Mungkin karena lelah, mungkin karena suasana malam membuat percakapan terasa tidak lagi diperlukan. Sesekali aku menoleh ke arahnya. Ia tampak tenang, memandang ke luar jendela. Aku kembali melihat ke depan, berusaha menikmati perjalanan sambil menahan kantuk.

Lalu, entah bagaimana, tangan kami bersentuhan.

Awalnya hanya sentuhan kecil yang mungkin terjadi karena gerakan bus atau posisi duduk kami yang semakin tidak teratur. Punggung tangannya menyentuh tanganku. Aku terdiam. Ada sesuatu yang tiba-tiba membuat seluruh perhatianku terpusat pada sentuhan sederhana itu. Aku tidak langsung menarik tangan. Ia pun tidak segera menjauh.

Beberapa detik berlalu.

Aku masih bisa mengingat bagaimana rasanya saat itu. Di luar, malam tetap berjalan seperti biasa. Lampu-lampu jalan tetap melintas. Bus tetap bergerak. Orang-orang tetap tertidur. Dunia seakan tidak mengetahui bahwa di antara dua kursi itu, ada sesuatu yang sedang terjadi. Sesuatu yang begitu kecil bagi siapa pun yang tidak mengalaminya, tetapi begitu besar bagi dua hati yang selama ini hanya berani berbicara melalui isyarat.

Kemudian, tanpa benar-benar kami rencanakan, jemari kami saling bertaut.

Tangan kami saling menggenggam.

Dan seketika itu juga, aku merasa seperti ada aliran listrik yang merayap dari ujung jemari, menyentak saraf, lalu menjalar sampai ke dada. Jantungku berdegup begitu keras hingga aku khawatir Ranti dapat mendengarnya. Aku tidak tahu apakah ia merasakan hal yang sama, tetapi dari caranya mendadak menegang, aku tahu bahwa sentuhan itu juga mengejutkannya.

Untuk sesaat, kami tidak bergerak.

Genggaman itu terasa hangat. Sederhana, tetapi mengandung sesuatu yang selama ini tidak pernah berani kami lakukan. Aku yang berulang kali menyembunyikan perasaan di balik gurauan, yang memilih lagu sebagai pengganti pengakuan, yang membutuhkan drama Korea untuk belajar memahami hatiku sendiri, kini sedang menggenggam tangan perempuan yang diam-diam kusukai.

Aku ingin waktu berhenti.

Aku ingin malam itu menjadi sedikit lebih panjang. Aku ingin tetap berada di sana, di antara deru mesin bus dan cahaya lampu jalan, sambil membiarkan tangan kami berbicara tentang segala sesuatu yang tidak pernah sanggup kami ucapkan. Aku ingin menggenggamnya sedikit lebih lama, bukan untuk menuntut apa pun darinya, melainkan karena untuk pertama kalinya, perasaan yang selama ini hanya hidup dalam dugaan terasa begitu nyata.

Namun, mungkin kenyataan memang selalu datang lebih cepat daripada keberanian manusia.

Ranti tiba-tiba melepaskan genggamannya.

Aku pun refleks menarik tanganku.

Gerakan itu berlangsung begitu cepat, seolah-olah kami baru saja tersentuh sesuatu yang terlalu panas. Aku menoleh kepadanya. Ia menunduk, tampak terkejut. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Ada banyak kalimat berdesakan di kepala, tetapi tidak satu pun berhasil keluar.

"Ranti..." hampir saja aku memanggilnya.

Namun, namanya hanya bergetar di dalam hati.

Ia tidak mengatakan apa-apa. Aku juga tidak. Kami kembali duduk menghadap ke depan, dengan tangan masing-masing yang kini terasa asing di pangkuan sendiri. Suasana malam tetap sama, tetapi bagiku, segala sesuatu telah berubah. Aku tidak berani menoleh lagi. Aku takut melihat wajahnya dan menemukan rasa malu yang sama. Aku takut ia salah memahami diamku. Aku takut jika aku mengatakan sesuatu, momen itu akan kehilangan kesuciannya sebagai sesuatu yang terjadi tanpa dibuat-buat.

Maka, kami memilih diam.

Diam yang bukan berarti tidak ada yang ingin dikatakan. Justru sebaliknya, ada terlalu banyak hal yang ingin diucapkan sampai-sampai tidak satu pun sanggup menemukan jalan keluar.

Aku terus memandang ke depan. Dalam pikiranku, sentuhan tadi berulang kali terjadi. Jemarinya. Hangat tangannya. Detik ketika genggaman itu terbentuk. Dan detik ketika semuanya berakhir. Aku ingin mengulanginya, tetapi sekaligus takut jika itu benar-benar terjadi lagi. Aku ingin bertanya apakah ia juga merasakan sesuatu yang sama, tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk menoleh dan menatap matanya.

Barangkali ia pun sedang mengalami hal yang serupa. Barangkali di dalam kepalanya, pertanyaan-pertanyaan yang sama sedang berputar. Barangkali ia juga ingin mengatakan sesuatu, tetapi memilih menelannya kembali. Aku tidak pernah benar-benar tahu. Malam itu tidak memberikan jawaban. Ia hanya menyimpan sebuah rahasia di antara kami, lalu membawa kami pulang bersama kenangan yang tidak pernah kami rencanakan.

Sepanjang sisa perjalanan, kami hampir tidak berbicara. Bahkan ketika bus akhirnya tiba dan para penumpang mulai terbangun, kami tetap bersikap seperti biasa. Kami turun, membantu siswa mengumpulkan barang, memastikan semua orang pulang dengan aman, lalu kembali menjalani tugas masing-masing. Tidak ada pengakuan. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada percakapan khusus tentang apa yang terjadi di dalam bus malam itu.

Tetapi, aku tahu bahwa aku tidak akan pernah melupakannya.

Tahun-tahun berlalu sejak perjalanan tersebut. Waktu membawa kami melewati banyak hal. Kesibukan bertambah, keadaan berubah, dan kehidupan perlahan mengarahkan kami ke jalan masing-masing. Hubungan yang dahulu terasa begitu dekat pada akhirnya tidak menjadi kisah cinta yang kami teruskan sampai akhir. Kami tidak lagi menjadi pasangan kekasih. Ada hal-hal yang dahulu kami harapkan, tetapi ternyata tidak ditakdirkan untuk kami miliki bersama. Dan seperti banyak kisah manusia lainnya, kedekatan itu akhirnya tinggal sebagai bagian dari masa lalu.

Kini, ketika mengingat Ranti, aku tidak lagi bertanya-tanya mengapa semuanya tidak berakhir seperti yang dahulu kubayangkan. Aku mulai memahami bahwa tidak setiap perasaan harus berakhir dengan kebersamaan agar dapat disebut berarti. Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita bukan untuk tinggal selamanya, melainkan untuk memperkenalkan sisi diri kita yang bahkan tidak pernah kita kenali sebelumnya.

Ranti pernah mengajariku bahwa cinta bisa tumbuh dari hal-hal yang paling sederhana. Dari sebuah rekomendasi drama Korea yang awalnya kutonton dengan setengah terpaksa. Dari panggilan oppa dan dongsaeng yang terdengar konyol, tetapi diam-diam menjadi bahasa khusus bagi dua hati. Dari lagu-lagu yang diputar di sebuah ruangan, dari tawa kecil di antara pekerjaan, dari perjalanan ke luar kota, dan dari sebuah genggaman yang hanya berlangsung beberapa detik.

Kadang-kadang, aku masih teringat malam itu. Aku membayangkan kembali bus yang melaju di jalan gelap, para penumpang yang terlelap, cahaya lampu yang berlari di balik jendela, dan dua tangan yang tanpa sengaja menemukan satu sama lain. Lalu aku tersenyum kecil, bukan karena ingin kembali ke masa lalu, melainkan karena pernah ada masa ketika hatiku berdebar begitu hebat hanya karena seseorang menggenggam tanganku.

Mungkin, bagi Ranti, kejadian itu hanyalah sebuah momen yang mengejutkan. Mungkin ia menyimpannya dengan cara yang berbeda. Aku tidak tahu. Waktu telah mengajarkan bahwa kenangan yang sama bisa tinggal dengan makna yang berbeda di dalam dua hati. Namun, bagiku, genggaman itu selalu menjadi sesuatu yang istimewa. Bukan karena ia menjanjikan masa depan, tetapi karena pada saat itu, untuk beberapa detik yang singkat, aku merasa begitu dekat dengan seseorang yang selama ini hanya berani kudekati melalui kata-kata yang disamarkan.

Aku pernah berharap genggaman itu berlangsung lebih lama. Aku pernah berharap malam itu tidak segera berakhir. Aku pernah berharap bahwa setelah kejadian itu, kami akan saling menatap, tersenyum, lalu mengatakan apa yang selama ini kami sembunyikan. Namun, hidup tidak selalu memberi kita kesempatan untuk menyelesaikan kalimat yang sudah terlanjur dimulai oleh hati.

Dan barangkali, memang itulah yang membuatnya begitu sulit dilupakan.

Sebab, ada kenangan yang justru bertahan karena tidak pernah memperoleh akhir yang benar-benar kita inginkan. Ia menetap sebagai pertanyaan yang tidak perlu lagi dijawab, sebagai cerita yang tidak lagi harus dilanjutkan, dan sebagai bagian kecil dari masa lalu yang tetap terasa hangat ketika disentuh oleh ingatan.

Sekarang aku mengerti, mengapa dahulu aku bisa begitu emosional ketika menonton drama Korea yang direkomendasikan Ranti. Rupanya, jauh sebelum aku mengenali akhir ceritanya, hatiku sedang belajar memahami kisahnya sendiri. Aku hanya belum tahu bahwa suatu hari nanti, aku akan menjadi salah satu tokoh dalam cerita yang tidak pernah kutulis, tetapi terus kuingat.

Jika suatu saat seseorang bertanya kepadaku tentang cinta yang paling membekas, mungkin aku tidak akan bercerita tentang hubungan yang paling lama, janji yang paling indah, atau seseorang yang berhasil tinggal sampai akhir. Aku justru akan bercerita tentang seorang perempuan bernama Ranti, tentang sebuah perjalanan studi tur, dan tentang malam ketika tangan kami bertaut tanpa sengaja.

Aku akan bercerita bahwa ada genggaman yang berlangsung hanya beberapa detik, tetapi kenangannya mampu bertahan bertahun-tahun. Bahwa ada perasaan yang tidak pernah benar-benar menjadi milik kita, tetapi tetap meninggalkan sesuatu yang tidak dapat dihapus oleh waktu. Bahwa terkadang, yang paling membekas bukanlah seseorang yang akhirnya kita miliki, melainkan seseorang yang pernah membuat kita berharap dengan begitu tulus.

Dan jika cerita itu harus kututup dengan satu kalimat, aku ingin mengatakan ini:

Ranti, mungkin kita tidak ditakdirkan untuk saling menggenggam sepanjang hidup. Namun, pernah ada satu malam ketika tangan kita bertemu, hati kita terkejut, dan dunia terasa berhenti selama beberapa detik. Sampai hari ini, aku tidak tahu apakah kamu masih mengingatnya. Tetapi aku tahu, ada bagian dari diriku yang akan selalu tinggal di sana, di sebuah bus yang melaju menembus malam, ketika untuk pertama kalinya, cinta tidak lagi sekadar kurasakan dalam diam, melainkan sempat kugenggam dengan tanganku sendiri.

Dan sejak malam itu, aku tidak pernah lagi menertawakan orang-orang yang menangis karena kisah cinta.

Sebab, akhirnya aku tahu, terkadang yang membuat kita menangis bukanlah karena cinta itu telah berakhir, melainkan karena kita pernah begitu bahagia, meski hanya sebentar, dan tidak pernah benar-benar siap ketika kebahagiaan itu berubah menjadi kenangan.

Namun satu hal yang kuyakini, bahwa terkadang seseorang memang tidak ditakdirkan untuk tinggal. Ia hanya datang untuk meninggalkan satu kenangan yang tak pernah benar-benar selesai. (MA)

Senin, 06 Februari 2023

KETIKA TASBIH BERCINTA 1


Arini tak kuasa menahan kekesalannya. Dibantingnya hasil ujian statistik ditangannya ke atas meja. Ia tak habis pikir, mengapa nilai ujian sebagian besar mata kuliahnya masih saja jeblok. Padahal ia merasa dalam ujian kali ini sudah berusaha lebih maksimal dibanding ujian-ujian sebelumnya, dimana Ia selama ini memang sangat cuek dengan urusan mata kuliah. Ia lebih suka shopping bareng teman-temannya lalu berburu kuliner dari resto ke resto. Atau jika tidak, ia menghabiskan waktunya di depan laptop mengutak-atik facebook. Di tengah kegalauannya tiba-tiba HPnya berbunyi. Rupanya telepon dari Boby, cowok yang dipacarinya sejak tiga bulan yang lalu.

“Halo honey, lagi dimana nih?”

“Aku masih di kampus nih say, kesel banget, masak nilaiku masih jeblok semua!”

“Ya udah, Abang jemput ya, terus kita jalan-jalan sambil cari makanan kesukaanmu, gimana?” 

“Ok dech honey, aku tunggu di tempat biasa ya!”

            Arini tersenyum. Sejenak ia mulai melupakan masalahnya. Menurutnya Boby memang cowok pilihan yang tepat. Bukan hanya memiliki wajah yang tampan dan tajir, tapi Ia juga pengertian dan bisa menjadi pelipur di kala hatinya lara.

            Tidak banyak yang tahu, termasuk Arini, bahwa nama lengkap Boby sebenarnya adalah Rizky Tasbihullisan. Wajahnya yang mirip artis dan anak seorang pengusaha terkenal di kotanya, ditambah kemampuannya merayu yang di atas rata-rata membuatnya dengan mudah menaklukkan hati wanita yang diinginkannya. Tak heran, dunia asmaranya tak cukup hanya berpetualang dari hati ke hati, tapi tak jarang dalam waktu bersamaan dilakoni dengan beberapa cinta sekaligus. Dasar playboy!

            “Kok lama banget say? Perutku udah laper banget nih!” rengek Arini manja ketika Boby tiba.

            “Sory cantik, tadi masih ngisi bensin, silahkan tuan putri!” kilah Boby sambil membukakan pintu mobil.

            “Kita makan di mana say?”

            “Tenang aja, abang akan bawa kamu ke tempat spesial dengan menu serba spesial!”

            “Wah, abang tau aja kesukaan Arini, jadi nggak sabar nih”.

            Tak lama kemudian mereka pun tiba di cafĂ© Platinum, tempat santap siang para eksmud yang cukup terkenal.

            “Silahkan tuan putri pilih menunya!” goda Boby dengan gaya seorang waitress sambil menyodorkan daftar menu.

            “Thanks honey,” balas Arini dengan wajah kemerahan. Tersanjung.

            Tiba-tiba HP Boby berbunyi. Rupanya SMS dari Evita. Waduh aku hampir lupa, hari ini kan ulang tahun Evita, pikir Boby kaget. Padahal dia belum menyiapkan hadiah untuk cewek yang baru dipacarinya sebulan yang lalu itu.

            “Dari siapa say, kok kaget begitu, ada apa?”

            “Ah, nggak apa-apa, hampir lupa beli hadiah untuk ultah adik,” kilah Boby berbohong.

            “Ya udah, nanti sekalian habis makan aku temani belanja ya!”

            “Oke manis, selamat menikmati hidangannya ya!” balas Boby dengan wajah innocent  khas playboy.

            Malam itu Boby segera meluncur kerumah Evita. Sosok pacarnya yang satu ini berbeda seratus delapan puluh derajat dari Arini. Evita yang terkenal kutu buku tidak suka hang out bersama teman-temannya apalagi ke acara-acara pesta dan kemeriahan lainnya. Ia lebih suka suasana sepi perpustakaan atau toko buku sambil melahap berbagai buku bacaan, mulai dari novel romantis hingga filsafat klasik. Tak heran jika cewek berkacamata ini mendapat IP lumayan di kampus. Selain yang berbau bacaan, hal yang disukainya adalah nonton film-film terbaru, terutama film ber-genre adventures.

            “Happy birthday honey… I wish you all the best!” sapa Boby tanpa basa-basi setelah bertemu Evita di depan pintu rumahnya sambil menyodorkan kado dengan pita merah ditangannya. Isinya adalah Novel terbaru karya pengarang favorit Evita yang tadi siang dipilihkan oleh Arini. Boby bilang ke Arini kalau adiknya yang ultah itu adalah kutu buku dan bla bla bla…

            “Thanks a lot my prince, you’re so kind…!” balas Evita surprised sambil merangkulkan tangannya ke leher Boby. Boby segera membalas dengan kecupan di kening pacarnya itu.

            “Gimana kalau kita nonton bioskop malam ini? Abang udah siapkan dua karcis lho!” tawar Boby.

            “Oh ya?! mau bangeet… by the way, film apa honey?” Tanya Evita penasaran.

            “Ada aja, abang yakin kamu pasti suka, ok!” kelit Boby tak mau pacarnya kehilangan rasa penasaran.

            “Uuh dasar… tapi nggak apa-apa dech,” Evita menyerah sambil mencubit lengan kekasihnya.

            Akhirnya kedua insan dimabuk cinta itu larut dalam kebahagiaan mereka. Evita merasa sangat beruntung karena dianugerahi kekasih sebaik Boby. Tak terpikir olehnya bahwa ia hanya menjadi korban dari kebiasaan Boby yang doyan berpetualang dari satu gadis ke gadis lainnya. Bagi Boby, bercinta dengan beberapa gadis berbeda type dan kebiasaan, adalah hal yang dapat menghindarkannya dari kebosanan. Persetan dengan kesetiaan! Kesetiaan hanya melahirkan rasa possessive dan kecemburuan, yang akhirnya bermuara pada kecengengan. Puiih!

* * *

             Pagi itu Bobby sedang berjalan menuju ruang Auditorium kampus untuk menghadiri acara bedah buku tentang Jejaring Zionisme yang diadakan oleh para aktivis Lembaga Dakwah Kampus. Sebenarnya ia kurang minat dengan diskusi, apalagi yang bertemakan SARA. Namun entah kenapa hari ini ia mau menghadiri undangan Khalid, teman sekelasnya yang aktifis dakwah. Selain karena memang lagi tidak ada jam kuliah, sejak beberapa hari lalu Boby dihantui rasa penasaran pada seseorang. Ia adalah gadis berjilbab yang motornya tersenggol tak sengaja oleh mobilnya. Sekilas ia sempat memandang wajah gadis itu, namun ketika ia membuka kaca mobilnya untuk meminta maaf, gadis itu sudah keburu pergi. Ia masih ingat wajah gadis itu, dari busananya, ia yakin kalau gadis itu juga aktifis dakwah, siapa tahu bisa ketemu di acara ini, harap Boby.

            Tiba-tiba matanya menangkap sosok jilbaber yang sedang menuju ke arah yang sama dengannya. Ya, benar, dialah orang yang saya cari, ini kesempatan yang baik buat minta maaf sekalian berkenalan. Ternyata manis juga, pikirnya nakal. Wajahnya yang berseri terbalut jilbab, matanya yang terjaga alias lebih banyak menunduk menambah pesona berbeda dibanding dengan kebanyakan perempuan yang pernah didekatinya selama ini. Baru kali ini ia menyadari bahwa wanita berjilbab tidak saja bisa terlihat cantik tapi juga menyejukkan hati. Boby mulai bersiap dengan akting nomor sebelas. Masuki dulu atmosfirnya, sok alim, lalu keluarkan jurus maut andalannya.

            “Assalamualaikum!” sapa Boby saat berpapasan di dekat pintu sambil tetap menundukkan kepala hanya ujung matanya saja yang masih saja melirik ke arah si gadis.

            “Waalaikum salam warahmatullah!” jawab gadis tersebut kaget mendapat salam tiba-tiba dari orang yang tak dikenalnya.

”Nama saya Tasbih, Tasbihullisan, bolehkah tahu nama anda?” entah kenapa ia tak dapat berbohong pada gadis tersebut dengan menggunakan nama samarannya selama ini. Namun gadis tersebut terlihat cuek bahkan segera meneruskan langkahnya. Dengan sigap Boby segera melanjutkan serangannya.

“Ukhti, Demi Tuhan ana akan melakukan tiga kebaikan hari ini jika anda menjawab tiga pertanyaan ana!” Boby tahu kosakata arab tersebut saat ngobrol dengan Khalid beberapa waktu lalu. Semoga ampuh, harapnya. Dan ternyata gadis berjilbab itu seketika berhenti. Boby pun tak mau kehilangan buruannya.

“Maafkan ana atas tabrakan kecil beberapa waktu lalu, Siapakah nama ukhti? Bersediakah Ukhti menikah dengan ana?” serang Boby mantap. Ia sadar jika tipe gadis dihadapannya itu sangat anti dengan istilah pacaran, tidak seperti Arini, Evita dan gadis-gadis yang pernah ia taklukkan selama ini. Alhasil, gadis itu akhirnya menoleh meski sesaat dan mulai mau bersuara.

“Panggil saya Hanifa, saya sudah memaafkan, jika butuh bantuan silahkan akhi menghubungi sekretariat LDK di dekat masjid Kampus!” balasnya seraya berlalu meninggalkan Boby yang terbengong sendirian.

Yes! Pekik Boby dalam hati. Meskipun pertanyaan terakhirnya tak mendapat jawaban langsung, tapi ia cukup puas dengan sekedar mengetahui nama gadis itu. Tinggal follow up-nya saja pikirnya. Ia tak sanggup menggambarkan perasaannya saat ini. Entah mengapa menatap gadis itu perasaannya bergetar tak seperti biasa. Menaklukkan gadis-gadis seperti yang pernah dipacarinya selama ini sudah menjadi hal yang biasa baginya. Tapi yang ini beda, ada tantangan tersendiri yang sulit untuk dijelaskan. Yang pasti, demi memenuhi janjinya pada Hanifa untuk melakukan tiga kebaikan hari ini, ia akan menggagalkan dua janji kencannya dengan Arini dan Evita, dan yang ketiga dia akan mencari Khalid untuk belajar lebih banyak tentang LDK.

* * *

Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah seminggu sejak kejadian di Audit, Boby masih larut dalam upaya tebar pesona demi memperjuangkan target terbarunya. Setiap hari ia menyibukkan diri dengan aktifitas di seputar lingkungan masjid kampus, seperti halaqah, shalat berjama’ah, membaca al-Qur’an dll. Dagunya yang tajam mulus mulai menghitam ditumbuhi bulu-bulu halus. Saya belum pernah gagal mendapatkan gadis yang saya inginkan! Tekadnya. Semua pacarnya dengan mudah dapat ditaklukkan dengan menggunakan cara yang sama, yaitu masuki atmosfernya, penuhi keinginannya dan sentuh hatinya, pasti klepek-klepek! Termasuk targetnya saat ini yang menurutnya paling berat dibanding sebelum-sebelumnya, yaitu mendapatkan cinta Hanifa. Meskipun untuk itu ia harus melakukan apa yang selama ini tak pernah terbayangkan dalam kehidupannya yang hedonis dan glamour.  

Karena tak ingin konsentrasinya pecah, praktis selama itu pula ia tak pernah lagi mengencani Arini dan Evita kecuali via SMS atau telepon, itupun jarang-jarang. Tak ayal, keduanya jadi uring-uringan. Arini yang lebih agresif mulai mencari informasi tentang keberadaan pacarnya itu. Dari teman-teman Boby akhirnya Arini kaget setelah mengetahui seperti apa sebenarnya sosok Arjunanya itu. Bahkan ia lebih kaget lagi ketika tahu bahwa pacar lain dari Boby adalah Evita yang tak lain adalah temannya sendiri semasa SMA. Awalnya ia sempat melabrak Evita sehingga terjadi percekcokan hebat. Tapi akhirnya keduanya menyadari bahwa mereka sebenarnya bernasib sama, yaitu sama-sama korban Boby. Berangkat dari nasib yang sama itu pula, merekapun lalu menyusun sebuah rencana!

Suatu ketika Boby yang di kalangan aktifis dakwah lebih akrab dipanggil Tasbih mulai memberanikan diri curhat kepada Khalid tentang apa yang sedang membuncah di hatinya.

“Akh Khalid, apakah mencintai seorang lawan jenis itu dilarang dalam agama?”

“Antum ada-ada saja, tentu saja tidak, justru hal itu adalah nikmat yang harus disyukuri selama disalurkan dengan cara yang dibenarkan oleh agama,” jelas Khalid. “Wah, jadi curiga nih, jangan-jangan lagi kasmaran ya?” sambungnya penuh selidik.

Akhirnya Boby menceritakan segala yang sedang dirasakannya saat itu sekaligus meminta solusi yang harus ditempuhnya. Khalid pun dengan panjang lebar menjelaskan langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk meraih asanya tersebut sebagaimana yang sudah lazim bagi para aktifis dakwah. Sebagai langkah pertama yang harus dilakukan adalah proses ta’aruf / perkenalan antara kedua lawan jenis. Proses ini diawali dengan saling mengenal lebih jauh tentang curriculum vitae atau biodata diri masing-masing baik melalui media tertulis atau langsung dari keluarga atau orang terdekatnya. Jika ada kecocokan barulah dilakukan pertemuan langsung dengan didampingi wali atau keluarga si gadis. Setelah itu barulah keputusan akhir bisa didapatkan, jadi atau gagal.

“Ok akh, ana siap melalui semua proses itu, tapi gimana dengan Hanifa?” tanya Boby masih bingung.

“Tenang saja, nanti ana yang akan menghubungi walinya, antum siapkan saja biodatanya, ok!” jelas Khalid sambil menepuk pundak Boby yang sudah kelihatan tak sabar.

Akhirnya genderang pun ditabuh (perang kali!). Dengan antusias Boby menyiapkan biodatanya sesuai dengan kesepakatan dari pihak si gadis. Bahkan tidak itu saja, Boby juga mendapatkan beberapa foto Hanifa sebagai bahan pertimbangan sebelum mereka bertemu langsung. Kata bersaut, gayung bersambut! Bisik hati Boby yakin bahwa upayanya kali ini kembali akan menuai hasil. Apalagi sesuai dengan permintaan dari pihak si gadis, pertemuan itu ternyata akan segera digelar lebih cepat dari dugaannya selama ini. Tiga hari lagi! Ya, tiga hari lagi ia akan segera bertemu dengan gadis pujaannya. Petualangan terakhirnya!? Yup, Boby berjanji untuk mengakhiri kebiasaannya mempermainkan wanita. Ia akan segera menikahi Hanifa, lalu memulai hidup baru yang jauh dari rekam jejak masa lalunya.

Tiga hari kemudian pertemuanpun dilangsungkan di kediaman Hanifa. Boby datang tidak sendirian, tapi ditemani Khalid, biar lebih tegar katanya. Setelah berbasa-basi sejenak, perbincangan inti pun di mulai. Dengan penuh percaya diri Tasbih alias Boby menyampaikan maksud kedatangannya ke tempat itu. Meskipun sudah berpengalaman dalam urusan tembak-menembak gadis, tapi untuk kali ini ia harus menyiapkan mental ekstra untuk melakukannya. Kalau sebelumnya ia hanya berdua-dua saja di tempat tertentu, tapi sekarang ia berada di tengah-tengah keluarga besar si gadis. Keringat mulai membasahi keningnya bersamaan dengan akhir dari perkataannya. Walaupun sebelumnya sudah yakin, tetap saja hatinya berdebar dan tak sabar menunggu jawaban langsung dari Hanifa.  

“Akhi Tasbih, menjalin silaturrahim dan persaudaraan adalah anjuran agama, dan yang memutuskannya akan di laknat oleh Allah azza wajalla. Saya dan seluruh keluarga tentu senang dengan kunjungan silaturrahim ini……”

“Jadi ukhti menerima lamaran ana…?” potong Boby tak sabar.

“Sebentar, saya belum selesai,” lanjut Hanifa. “Usaha menjalin persaudaraan juga ada etikanya, tidak boleh ada pihak lain yang merasa tersakiti sehingga akan mengganggu silaturrahmi yang sudah terjalin sebelumnya. Jadi, atas dasar ini pula, dengan berat hati saya tidak bisa menerima lamaran anda, karena jika diterima, ada orang-orang yang selama ini sudah lebih dahulu menjalin silaturrahim dengan saya akan tersakiti perasaannya!”

“Wah… ini nggak fair, jadi lamaran saya ditolak karena sudah ada orang lain yang lebih dahulu melamar ukhti, Siapa dia? Kenapa tidak disampaikan sebelumnya!?” balas Boby tak terima.

“Bukan, tapi mereka adalah teman-teman saya sejak SMA, Arini dan Evita……..!”   

 

 Siantan Hilir,  Juni 2009

 

(Cerpen yang judulnya diilhami film KCB ini pernah di muat di harian Pontianak Post edisi Juli 2009)

Senin, 07 Juli 2014

Lawan atau Musuh Politik?


Oleh : Mohammad Amin

            Suhu panas konstelasi politik nasional (pilpres) diakui atau tidak telah merambah hingga ke akar rumput. Suasana tersebut sangat terasa dalam berbagai perbincangan di berbagai tempat dan kesempatan. Mulai dari seminar di hotel berbintang hingga obrolan santai warung kopi di tepi jalan. Mulai dari diskusi di auditorium kampus hingga debat kusir di lorong kakus. Hal ini tidak bisa dihindari terutama akibat mengerucutnya calon presiden dan wakilnya hanya pada dua kubu, yaitu pasangan Prabowo Subianto–Hatta Rajasa dan Joko Widodo–Jusuf Kalla. Massa pendukung pun terbelah dua. Dua kubu tersebut kemudian berhadap-hadapan secara diametral dimana kondisi ini pada akhirnya juga menggiring para pendukung keduanya ‘bertemu’ secara frontal.
            Parahnya lagi, ibarat menanam jamur di musim hujan, hal tersebut terjadi di tengah kondisi pemahaman dan prilaku politik (political behaviour) masyarakat Indonesia yang masih rendah terhadap substansi politik. Bahwa bagi sebagian politisi, hakikat politik adalah siapa mendapat apa, kapan dan bagaimana, sehingga untuk itu tidak ada yang abadi dalam politik kecuali kepentingan. Sementara bagi masyarakat awam, pilihan politik telah menjadi bagian dari harga diri yang harus diperjuangkan dengan cara apapun. Akhirnya muncullah fanatisme politik yang bisa berakibat fatal dan bahkan kontraproduktif dengan orientasi demokrasi itu sendiri. Seperti kasus yang baru-baru ini terjadi, ketika dua orang tukang becak yang terlibat adu jotos gara-gara perbedaan capres-cawapres yang menjadi jagoannya.
            Secara intrinsik, realitas di atas juga terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat atau bahkan praktisi politik di negeri ini akan perbedaan antara lawan politik (political opponent) dan musuh politik (political enemy). Akibat kekaburan dalam melihat dan membedakan dua hal ini akhirnya berpengaruh pada cara pandang dan sikap bahkan cara bertindak mereka.
            Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online, terlihat bahwa kata musuh memang memiliki kedekatan arti dengan lawan. Namun, keduanya juga memiliki pengertian khas masing-masing yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Kata musuh juga bisa berarti sebagai sesuatu yang mengancam (kesehatan, keselamatan); yang merusakkan. Sementara kata lawan memiliki arti khas pasangan; teman. Dalam penggunaan sehari-hari, kedua istilah ini juga tidak selalu cocok dalam paduannya dengan kata yang lain. Misalnya ‘lawan bicara’ tidak bisa kita ganti dengan ‘musuh bicara’ atau ‘berlawanan arah’ tidak bisa kita ganti dengan ‘bermusuhan arah’. Di sisi lain, setiap yang dianggap ‘musuh’ akan selalu pantas disebut juga ‘lawan’. Sehingga bisa disimpulkan, bahwa lawan tidaklah selalu musuh tapi musuh pastilah lawan.
            Dalam konteks politik, perbedaan partai, caleg, atau capres-cawapres sesungguhnya masih dalam kategori ‘lawan’. Karena dengan keberadaannya justru untuk memperteguh dan mempertegas eksistensi yang lainnya. Adanya lawan akan membuat seseorang atau kelompok akan berusaha meningkatkan daya juangnya sekaligus menjadi barometer untuk mengukur kekurangan dan kelebihannya. Seperti kata orang bijak, ‘lawan debat’ adalah ‘kawan berfikir’, atau kalau dalam olah raga tinju adalah sebagai sparring partner. Selain itu, meskipun berbeda platform, pada prinsipnya semua kontestan politik memiliki arah dan tujuan yang relatif sama, yaitu untuk mewujudkan idealisme bangsa dan negara Republik Indonesia sebagaimana terangkum dalam Pancasila dan UUD 1945. Tidak bisa dibayangkan kalau misalnya hanya ada satu partai saja, atau satu calon presiden saja. Tentu kontestasi akan berjalan sangat membosankan, tidak menarik dan bahkan tidak kompetitif.
            Dengan demikian, adanya lawan haruslah dilihat dari sudut pandang positif. Sehingga kalaupun harus bersaing dalam mencari dukungan tapi tetap dengan mengedepankan cara-cara yang etis dan konstruktif. Bahkan akan lebih bagus lagi jika cara-cara menarik dukungan tersebut dikemas dengan lebih kreatif sehingga membuat pesta demokrasi ini berjalan atraktif dan bisa lebih menarik minat pemilih sehingga dapat mengurangi angka golput yang masih cukup besar.
            Tapi apa yang terjadi dengan situasi politik mutakhir justru menunjukkan realitas sebaliknya. Karena ‘lawan politik’ ditafsirkan secara keliru sebagai ‘musuh politik’ yang dianggap membahayakan atau mengancam eksistensi, akhirnya cara-cara kotor dan destruktif masih menjadi primadona para pendukung capres-cawapres. Pembunuhan karakter (character assasination) dengan kampanye hitam (black campaign) masih sangat terasa di berbagai media. Informasi berbau SARA masih begitu mewarnai dalam banyak berita. Bahkan dalam jajak pendapat Tim Litbang “Kompas” yang direlease Senin (9/6) lalu menyebutkan bahwa hampir 50% responden menganggap bahwa serangan-serangan kepada pribadi para capres melalui kampanye hitam sudah berlebihan. Hal ini tentu sangat tidak produktif bagi peningkatan mental politik warga negara Indonesia yang konon sedang menuju ke ranah perpolitikan modern. 
            Sementara itu disisi lain ‘musuh politik’ yang semestinya menjadi musuh bersama (common enemy) justru terabaikan. Dalam kamus Wikipedia disebutkan bahwa kata ‘musuh’ adalah istilah untuk sesuatu yang dipandang sebagai yang akan merugikan atau menjadi sebuah ancaman bagi yang lain. Dengan pengertian ini, maka yang sesungguhnya akan merugikan dan menjadi ancaman serius bagi perpolitikan di negeri ini bahkan mungkin ancaman bagi keberlangsungan demokrasi sehingga harus dijadikan ‘musuh bersama’ justru saat ini sedang membayang-bayangi kita semua.
            Jika dilihat dari berbagai varian pengertian politik menurut para ahli, maka ada beberapa ancaman serius yang harus dijadikan sebagai ‘musuh politik’ bersama bagi kita semua khususnya para politisi baik saat sedang berjuang meraih kekuasaan maupun ketika sudah menduduki singgasana nanti.
            Pertama, jika politik diartikan sebagai usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles) maka saat ini kita semua masih dihadapkan pada permasalahan yang cukup serius dalam hal kesejahteraan warga, dimana angka kemiskinan di negeri diyakini masih cukup tinggi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) yang setiap tahunnya merilis tingkat kemiskinan Indonesia, pada akhir tahun 2013 lalu indeks kedalaman kemiskinan naik dari 1,75% (Maret 2013) menjadi 1,89%. Kemudian indeks keparahan kemiskinan naik dari 0,43% (Maret) menjadi 0,48%. BPS juga mencatat bahwa angka kemiskinan meningkat terbesar di pulau Jawa, kemudian Sumatera, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Papua serta Kalimantan. Jumlah penduduk miskin pada September 2013 sebesar 28,55 juta orang atau 11,47 persen, jika dibandingkan Maret 2013 maka jumlah tersebut mengalami peningkatan sebanyak 480 ribu orang.
            Kedua, jika politik dipahami  sebagai hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara maka saat ini masih sering kita jumpai berbagai praktek penyimpangan kekuasaan (abuse of power) yang terjadi baik di lembaga eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Salah satu contoh adalah praktek korupsi yang masih menggurita hingga saat ini. Sebagaimana hasil survei Transparansi Internasional (TI), sebuah organisasi non profit yang memiliki perhatian khusus dan kerap melakukan survei soal korupsi, yang pada akhir tahun lalu  mengeluarkan daftar terbaru indeks persepsi korupsi tahun 2013. Hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi ke-114 dengan indeks persepsi 32. Posisi ini sangat jauh bila dibandingkan dengan posisi Singapura, yang menjadi satu-satunya negara Asia bertengger di posisi ke-5 dengan indeks persepsi 86.
            Temuan Global Corruption Barometer 2013 (GCB 2013) menempatkan parlemen dan partai politik sebagai lembaga yang korup dalam persepsi dan pengalaman masyarakat. Parlemen menduduki peringkat kedua terkorup (setelah Kepolisian) dari 12 lembaga publik yang dinilai. Sementara partai politik berada pada peringkat ke-4 terkorup. (sumber: www.ti.or.id)
            Ketiga, jika politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat maka hal sangat terkait dengan proses penyelenggaraan pemilihan umum (PEMILU) baik pemilu legislatif maupun eksekutif. Sudah menjadi asumsi publik bahwa hingga saat ini pelaksanaan pemilu di negeri ini masih carut marut dengan berbagai praktek pelanggaran di dalamnya. Pada Pemilu Legislatif bulan April lalu misalnya, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mencatat jumlah pelanggaran yang terjadi mencapai 3.507 kasus. Dari jumlah tersebut, 209 pelanggaran masuk kategori pidana, sedangkan 3.238 merupakan pelanggaran administratif. Selain itu, ditemukan juga pelanggaran kode etik yang dilakukan penyelenggara pemilu sebanyak 42 kasus.
            Berbagai kasus pelanggaran Pemilu (electoral fraud) yang terjadi antara lain, adanya berbagai praktik kecurangan seperti politik uang (money politik), penggelembungan suara, penggunaan fasilitas negara saat kampanye, kampanye di luar jadwal, pelanggaran kode etik dan pelanggaran administratif lainnya. Indonesia Indicator (I2) –sebuah lembaga riset berbasis piranti lunak Artificial Intelligence (AI) untuk menganalisis indikasi politik, ekonomi, sosial di Indonesia melalui pemberitaan (media mapping) mengungkapkan bahwa selama pelaksanaan Pemilu Legislatif 2014 yang lalu pelanggaran yang terjadi didominasi oleh kasus politik uang, ini tentu realitas yang menyedihkan bagi masa depan demokrasi kita.
            Selain tiga hal di atas, sesungguhnya masih banyak ‘pekerjaan rumah’ politik (baca: aktor politik) yang harus diselesaikan demi mewujudkan cita-cita pendiri bangsa dan negara ini. Harapan kita, di tengah hiruk pikuk pesta demokrasi yang sedang berlangsung saat ini, jangan sampai kita salah kaprah dengan menguras tenaga bahkan melalui segala cara untuk menjatuhkan ‘lawan politik’ tapi malah lupa dengan ‘musuh politik’ yang seharusnya dibasmi bersama. Padahal idealnya, kita harus melawan musuh, tapi tidak boleh memusuhi lawan!



Minggu, 01 Desember 2013

SEPENGGAL CERITA DI KAMPUS TUA

                Siang itu, mataku terpaku menatap kosong halaman kampus yang berada tepat di depanku. Halaman yang boleh dibilang sangat kecil untuk sebuah perguruan tinggi Islam negeri satu-satunya di pulau Madura. Disekelilingnya berdiri beberapa pohon cemara dan akasia dengan diselingi beberapa batang pohon Pinang yang tak berbuah. Rumputnya pun terlihat mulai meninggi dibeberapa bagian, sementara dibagian yang lain terlihat tanah becek akibat anak-anak warga tetangga kampus yang biasanya sengaja datang bermain bola di sore hari. 
Halaman itu terlihat semakin sempit dengan berdirinya pot-pot semen ‘raksasa’ untuk ukuran pohon bunga di dalamnya yang masih kecil. Disekitarnya berdiri bangunan-bangunan tua yang konon telah melahirkan generasi-generasi intelektual atau alumni yang tersebar diberbagai daerah tidak hanya di Pulau Garam ini tapi juga hingga ke seberang pulau, termasuk guruku sendiri yang saat ini mengelola pesantren tempatku menimba ilmu sebelumnya di Kalimantan Barat. Yah, dari beliaulah aku tahu adanya kampus ini, dan mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku berada disini saat ini. Padahal melihat dari daerah asalku nun di pulau Kalimantan, terdengar sedikit aneh aku bisa memilih sebuah kampus ‘kecil’ yang berada hampir di tengah pulau yang terkenal beraroma keras ini. Bahkan pernah suatu ketika saat aku hendak membuat buku rekening tabungan di salah satu bank, petugas bank tersebut mengernyitkan dahi saat kutunjukkan kartu pelajarku.
“Kenapa mbak? Ada yang aneh?” tanyaku penasaran.
“Nggak, Cuma heran aja, kok bisa dari Kalimantan kuliah disini!” jawab teller bank yang kemudian kuketahui bernama Yanti dari papan yang ada dimejanya.
“Padahal sebelum sampai sini kan lewat Surabaya dulu, disana banyak perguruan tinggi yang lebih besar, atau di Malang yang terkenal sebagai kota pelajar”, lanjutnya.
Aku pun hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya. Bukan karena tidak mengerti alasanku kuliah disini, justru karena aku tahu persis alasan-alasan itu yang menurutku memang ‘aneh’ dan biarlah aku saja yang mengetahuinya. Apalagi ketika mendengar nama kota terakhir yang disebut teller bank tadi, Malang.
Ya, kota pelajar yang terkenal bersuhu dingin itu. Ketika baru memasuki semester kedua di kampus ini, aku sempat berniat pindah kuliah ke kota apel itu. Hal itu terjadi sepulangnya aku mengunjungi temanku yang sedang kuliah di sana. Jujur aku terpesona dengan suasana di kandang Singo Edan itu. Bukan saja keindahan alam dan kesejukan hawanya, tapi juga hiruk pikuk mahasiswanya yang begitu mewarnai wajah kota. Sehingga ketika berada didalamnya, aku betul-betul merasakan nuansa ilmu pengetahuan di samping aroma ‘pergaulan khas’ muda-mudi sebagaimana lazimnya disetiap daerah yang dikenal sebagai kota pelajar.
Di saat yang sama, dimasa-masa awal aku menjalani perkuliahan di kampus yang oleh kawan-kawan  seringkali dijuluki ‘kampus mewah’ ini (bukan mewah dalam arti sesungguhnya, tapi akronim dari ‘mepet sawah’ karena posisinya yang memang bersebelahan dengan ladang tembakau), marak sekali aksi-aksi demonstrasi yang (katanya) dipelopori oleh teman-teman seangkatanku (angk. ’99) dimana penyebab awalnya berkaitan dengan ketidakpastian izin penyelenggaraan salah satu jurusan yang memang baru dimulai. Bukan hanya unjuk rasa biasa, kami bahkan sempat menyegel semua pintu kelas sehingga perkuliahan ditutup selama dua minggu, dan puncaknya adalah ketika kami membakar petasan di ruang Pembantu Ketua I sebagai aksi intimidasi agar tuntutan kami disetujui. Meskipun aksi-aksi tersebut kemudian dianggap berhasil, namun tak bisa dipungkiri, selama semester pertama dan kedua itu, efektifitas perkuliahan menjadi sangat terganggu.
Itulah beberapa alasan yang membuatku pernah ingin ‘hengkang’ dari kampus ini. Namun saat ini, memasuki saat-saat akhir aku belajar disini, tepatnya semester VII, dimana aku sudah hampir menyelesaikan tugas skripsiku, perasaan itu telah benar-benar berubah. Aku sangat menikmati dan bahkan bersyukur telah memilih bertahan kuliah disini. Biarpun lokasi kampusnya kecil, tapi aku mulai sadar, karena itulah silaturrahim diantara kami mudah tersebar. Hampir semua mahasiswa saling mengenal, meskipun hanya saling mengingat wajahnya. Walaupun jumlah mahasiswanya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kampus besar, justru dengan begitu persaingan terasa longgar. Terutama dalam mengikuti aktifitas yang dilaksanakan oleh organisasi intern kampus. Bahkan pada saat yang sama, terkadang aku bisa aktif dalam beberapa organisasi dan mengisi dua sampai tiga jabatan ‘strategis’ sekaligus. Dari organisasi pula, aku kemudian mengenal sahabat-sahabat yang luar biasa, seperti syamsi, atoup, udin, mail, bonks, yudi, ucen, asbul, sinal, doil, kus, aan, sakin, ning, lilik dan lain-lain yang tak mungkin kusebutkan semua. Last but not least, yang paling utama dari semua alasanku bertahan adalah bahwa disinilah aku mengenal seorang mahasiswi classmate-ku yang kemudian menjadi kekasihku hingga detik ini.
 Dan saat ini, aku duduk gelisah didepan ruang Kantor Jurusan Syari’ah, dimana didalamnya kekasihku itu sedang berjuang mempertahankan hasil penelitiannya dalam sidang ujian skripsi. Aku gelisah bukan saja khawatir ia akan kesulitan dalam mempertanggung jawabkan tugasnya, tapi lebih dari itu aku mengkhawatirkan kemarahannya atau lebih tepatnya kecemburuannya padaku akibat kejadian dua jam yang lalu akan membuat emosinya labil, konsentrasinya buyar, dan akhirnya hasil ujian pamungkasnya sebagai mahasiswa menjadi berantakan. Dalam gelisahnya penantian, peristiwa dua jam lalu itu pun kembali terulang dalam memori ingatanku.

*  *  *

Sudah beberapa bulan terakhir ini aku menempati ruangan 3x5 meter berdinding putih ini. Ruangan yang dahulunya merupakan bagian dari ruangan perpustakaan kampus ini telah disulap menjadi studio Radio Nuansa FM. Radio mahasiswa pertama milik STAIN Pamekasan yang mengudara di gelombang 92,05 fm ini merupakan hasil ‘perjuangan’ kami (doil dan aku yang saat itu menjadi pengurus di DEPKOMINFO eh, DEPKOMFOS BEM 2002-2003) bersama teman-teman BEM lain yang sebelumnya sempat ditolak oleh pihak senat kampus. Setelah melalui beberapa kali lobi dan sedikit ‘tekanan’ akhirnya turunlah anggaran pengadaan radio yang aku tanda tangani sendiri kwitansinya. Walaupun setelah itu satu sen pun aku sendiri tidak pernah tau rincian pengeluarannya karena sudah dikelola oleh pimpinan BEM langsung. Singkatnya, akupun dipercayai untuk bertanggung jawab atas operasional radio ini. Setiap pagi pukul 04.30 WIB aku sudah harus menghidupkan mesin pemancar, dan mematikannya setiap malam sehabis siaran. Selain menjadi salah satu penyiar di salah satu segmen, aku juga yang bertugas mengganti lagu sesuai segmen jika petugas siar berhalangan atau terlambat datang. Dengan tugas-tugas tersebut, agar lebih efektif dan efisien (maksudnya menghemat dana anggaran ngontrak kos-kosan) maka akupun sekalian tinggal di ruangan yang cukup beresiko radiasi ini.
Pagi itu, aku sedang membereskan beberapa buku yang akan digunakan pacarku, sebut saja Ayu, untuk sidang ujian skripsinya nanti siang. Tiba-tiba datang beberapa mahasiswa adik kelas yang berkunjung. Mereka adalah Baihaqi –aktifis angkatan 2001, bersama teman-temannya.
“Ada apa nih? Kok tumben datangnya rombongan?” tanyaku setelah sebelumnya berbasa-basi.
“Begini, kami mau minta pendapat menyikapi peristiwa seputar perpolitikan di kampus kita akhir-akhir ini,” jawab Baihaqi yang menjadi ‘juru bicara’ teman-temannya saat itu.
Memang, beberapa hari sebelumnya terjadi satu peristiwa yang mungkin baru pertama kali dalam sejarah organisasi mahasiswa di kampus ini. Musyawarah tertinggi mahasiswa yang melibatkan perwakilan dari seluruh elemen organisasi kemahasiswaan baik eksekutif (BEM, UKM dan HMJ) maupun legislatif (DPM) itu tiba-tiba buyar karena masuknya sekelompok mahasiswa yang tidak jelas mewakili elemen yang mana. Akibatnya sidang pun deadlock bahkan bubar. Pasca peristiwa tersebut, kemudian muncul berbagai sinyalemen dan asumsi dikalangan mahasiswa khususnya aktifis kampus akan motif pembubaran tersebut. Salah satunya adalah adanya dugaan dan isu bahwa pembubaran tersebut memang direkayasa oleh ketua BEM sendiri agar bisa berkuasa lagi diperiode berikutnya. Padahal ditengarai pada masa kepemimpinannya, lembaga intern mahasiswa yang seharusnya netral dari politik praktis di luar kampus tersebut telah disalah gunakan untuk mendukung salah satu calon pemerintah daerah yang sedang bertarung saat itu. Hal ini tentu menciptakan suasana yang semakin ‘panas’ di kalangan adik kelas yang lazimnya mendapat ‘giliran’ untuk memimpin lembaga eksekutif tertinggi di tingkat kemahasiswaan tersebut. Meskipun aku adalah bagian dari kepengurusan BEM saat itu, namun sebagian adik kelas ada yang menganggapku masih di posisi yang netral dari abuse of power itu, sehingga sesekali ada mahasiswa yang meminta pendapatku dalam menyikapi kemelut tersebut.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Baihaqi, tiba-tiba masuk seorang mahasiswi yang dikenal paling vokal di angkatannya. Sebut saja namanya Gadis. Mahasiswi manis dan mungil tapi lincah dan energik yang merupakan adik kelas satu tingkat dariku. Akhir-akhir ini kami memang cukup sering bertemu dan berkomunikasi. Selain berdiskusi tentang organisasi, kami sering ngobrol seputar radio dimana dia juga salah satu penyiarnya. Karena itu pula, tak bisa dihindari jika kemudian ada selentingan kabar yang mengatakan adanya hubungan spesial di antara kami berdua.
Obrolan yang berlangsung di lorong yang menghubungkan studio radio dengan kantor BEM itu pun menjadi semakin seru dengan bergabungnya Gadis. Apalagi dengan gayanya yang ceplas ceplos dan humoris tak jarang suara tawa kami pun tak terhindarkan. Setelah hampir satu jam kami berdiskusi, Baihaqi yang juga berasal dari satu daerah denganku bersama teman-temannya pun pamit. Tinggallah aku dan Gadis melanjutkan obrolan. Berbagai topik silih berganti kami bahas, hingga tiba-tiba muncullah seorang wanita yang sangat kukenal, sosok yang sudah setahun lebih menjadi kekasihku. Dengan wajah terlihat marah, tanpa babibu ia langsung menerobos masuk melintasi kami berdua ke dalam ruang radio lalu mengemasi buku-buku untuk sidang ujian skripsinya. Memang, sesuai jadwal, siang ini dia akan mengikuti sidang di ruang Jurusan Syari’ah.
Melihat gelagat yang kurang enak, aku langsung minta maaf kepada Gadis untuk meninggalkannya dan segera menyusul kekasihku itu. Aku sadar dan tidak bisa menyalahkan jika dia marah melihatku duduk berdua saja dengan seorang wanita di ruangan yang relatif tertutup. Apalagi wanita itu adalah orang yang diisukan memiliki ‘kedekatan’ khusus denganku. Aku pun jadi serba salah.
“Please, jangan berfikiran yang bukan-bukan tentangku!” aku berusaha menenangkan.
“Tadi awalnya kami tidak berdua, tapi....”, belum selesai kalimatku mencoba menjelaskan, tanpa sepatah katapun ia sudah bergegas keluar ruangan sambil membawa tas besar penuh berisi buku. Aku pun lalu mengambil beberapa buku yang tersisa karena tasnya tidak muat lagi dan segera menyusul langkahnya dengan tergesa-gesa.       
    
*  *  *

Satu jam sudah aku duduk dengan fikiran tak menentu dalam penantian. Menanti kapan selesainya sidang ujian skripsi Ayu. Menanti berapa hasil ujian yang akan diperolehnya. Menanti sikap apa yang akan ditunjukkannya kepadaku, masih marah, kesal, tidak mau bicara, atau apa?
Kalau dikilas balik, selama satu tahun lebih hubungan kami, memang bisa dikatakan seringkali diwarnai pertengkaran kecil. Sifat kami yang sama-sama keras dan tak mau mengalah tak jarang memunculkan benturan-benturan. Beruntung waktu pertemuan kami dibatasi oleh status Ayu yang tinggal di Pesantren. Sehingga kami dapat berkomunikasi langsung hanya di jadwal perkuliahan saja, selebihnya hanya jika ada kegiatan organisasi, itupun jika ia mengantongi izin dari pengurus pesantren. Logikanya, kalau jarang bertemu maka jarang berkomunikasi, dan berkuranglah potensi konflik di antara kami. Tapi negatifnya, kalau diantara kami masih tersimpan masalah yang belum terselesaikan, maka selama tidak bertemu itu pula hari-hari jadi terasa begitu menyesakkan.
Jika dirunut lagi kebelakang, awal hubungan kami pun cukup unik. Berawal dari kesamaan nasib, yaitu sama-sama anak rantau. Aku berasal dari ujung barat pulau Kalimantan dan Ayu dari ujung timur pulau Jawa. Lalu kami bertemu di tengah-tengah pulau Madura, yaitu Pamekasan. Kami pun seringkali saling curhat ketika ada masalah, atau saling menguatkan ketika rasa rindu keluarga mulai membuncah.
Anehnya, dimasa-masa kedekatan sebagai teman biasa itupun sebenarnya kami sudah kerap terlibat dalam konflik-konflik ringan. Tapi yang lebih aneh lagi, jika beberapa hari tidak bertemu hati kami segera diliputi kerinduan. Tidak sekali dua kali kami diisukan pacaran, tapi kami selalu membantah, karena kami merasa memang tidak pernah ada ikatan khusus kecuali persahabatan. Meskipun sejujurnya kuakui bahwa sebenarnya aku takut kehilangan dia, tapi hati kecilku masih ragu apakah dia punya perasaan yang sama. Sementara nyaliku masih terlalu ciut untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Hingga pada suatu saat, karena desakan teman-teman dekatku, aku pun memberanikan diri ‘menembak’ nya ketika kami dan teman-teman berkunjung ke pantai saat menjelang liburan panjang. Singkat cerita, kamipun ‘jadian’ hingga saat ini.
“Alhamdulillah, sudah selesai!” suara Ayu tiba-tiba menyadarkanku dari lamunan. Belum sempat aku membalikkan badan ternyata dia sudah berdiri di hadapanku.
“Bagaimana hasilnya?” tanyaku penasaran.
“Aku dapat nilai A!” balasnya dengan senyum mengembang menambah aura manis di wajahnya yang tampak sangat sumringah. Satu persatu kekhawatiranku nampaknya mulai runtuh. Tapi bagaimana dengan sikapnya tadi saat melihatku berdua dengan Gadis? Apakah juga sudah mencair bersama euforia keberhasilannya dalam ujian? Aku masih penasaran.
“Syukurlah, selamat ya say...”, ucapku sambil mengulurkan tangan. Ia pun menjabat tanganku dengan hangat seakan-akan tidak ada masalah apa-apa sebelumnya.
“Aku minta maaf masalah yang tadi, aku...”.
“Sudahlah! Aku percaya kok sama kamu, tadi aku terbawa emosi aja, biasalah”.
“Terimakasih sayang, kepercayaanmu akan menjagaku!”
“Oya, untuk merayakan keberhasilanku, bagaimana kalo aku traktir kamu makan?”
“Ok bos, siapa takut! Tapi ngomong-ngomong kita makan dimana?”
“Ya biasalah, dimana lagi kalo bukan di warung Bu Nan, ‘restoran’ favorit mahasiswa STAIN...!”
“Hahaha...” Kami pun tertawa bersama. Menertawakan kehidupan yang terkadang berjalan di luar yang kita rencanakan atau yang kita takutkan, tapi terkadang justru itulah sesungguhnya yang kita butuhkan.


Singkawang, 30 November 2013

Catatan: 
Terimakasih untuk Kang Dhoil yang telah menginspirasi saya melalui sajaknya di (https://www.facebook.com/notes/doil-lennyornek/stain-jl-brawijaya-no-5-pamekasan-bag-i/10151955013429191?ref=notif&notif_t=note_tag) sehingga lahirlah cerita sederhana ini. semoga suatu saat kita bersama alumni yang lain bisa bersua kembali di Auditorium 'STAIN Brawijaya' untuk menapak tilasi jejak-jejak masa lalu untuk menginspirasi masa depan...