Selasa, 03 November 2026

KASIH TAK SAMPAI


Masa kuliah S1 adalah salah satu babak paling berwarna dalam hidupku. Bukan hanya karena di sanalah aku belajar banyak hal tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga karena kampus menjadi tempat aku menemukan begitu banyak pengalaman, persahabatan, perdebatan, dan tentu saja, cerita tentang perasaan.

Sejak awal kuliah, aku memang termasuk mahasiswa yang cukup aktif. Organisasi intra maupun ekstra kampus menjadi bagian dari keseharianku. Bagiku, kuliah bukan hanya datang ke kelas, mendengarkan dosen, mengerjakan tugas, lalu pulang. Ada banyak hal yang bisa dipelajari di luar ruang perkuliahan.

Bersama beberapa teman satu angkatan, kami membentuk sebuah study club. Kegiatannya sederhana, tetapi cukup rutin. Kami berdiskusi tentang berbagai persoalan yang sedang hangat dibicarakan. Mulai dari pendidikan, sosial, politik, agama, hingga persoalan kemahasiswaan.

Kadang diskusi berlangsung di sela-sela jam istirahat kuliah. Kadang kami sengaja keluar kampus, mencari suasana berbeda. Pantai menjadi salah satu tempat favorit. Sesekali kami berkumpul di rumah salah seorang anggota sambil menikmati kuliner khas daerahnya.

Namanya juga mahasiswa. Kalau sudah berkumpul, pembicaraan bisa sangat serius, tetapi urusan makanan tidak pernah boleh diabaikan.

Di antara beberapa anggota study club itu, ada seorang perempuan yang cukup dekat denganku. Namanya Ayu.

Ayu juga seorang perantau dari luar pulau. Mungkin karena memiliki nasib yang hampir sama, kami merasa mudah akrab. Ia cantik, berkulit putih, dan tinggi semampai. Penampilannya cukup menarik perhatian. Tidak mengherankan jika banyak mahasiswa, terutama kakak tingkat, yang menaruh hati kepadanya.

Bahkan, menurut pengakuannya sendiri, beberapa dosen pun pernah menunjukkan perhatian lebih kepadanya.

"Sepertinya aku ini memang punya banyak penggemar," katanya suatu ketika.

Aku tertawa.

"Wah, hati-hati. Jangan sampai nanti ada yang membuat daftar antrean."

Ia mencibir.

"Enak saja. Memangnya aku loket pembayaran?"

Begitulah Ayu. Cantik, tetapi tidak kehilangan selera humornya. Kadang ucapannya menyebalkan, tetapi justru itu yang membuat percakapan dengannya tidak pernah membosankan.

Kami sering berbicara berdua. Mulai dari persoalan kuliah, keluarga, kehidupan sebagai perantau, sampai hal-hal pribadi yang mungkin tidak mudah kami ceritakan kepada orang lain.

Tidak jarang kami berjalan bersama di lingkungan kampus. Kadang sekadar mencari makan, membeli sesuatu, atau duduk di tempat yang agak sepi sambil membicarakan banyak hal.

Lama-kelamaan, orang-orang mulai menganggap kami berpacaran.

"Eh, kalian berdua sebenarnya sudah jadian, ya?" tanya seorang teman.

Aku hanya tertawa.

"Belum. Kami ini teman."

"Teman kok ke mana-mana berdua?"

"Memangnya kalau ke mana-mana harus selalu bertiga?"

Temanku tertawa, tetapi rupanya jawaban itu tidak cukup meyakinkan.

Ayu pun mengetahui kabar tersebut. Anehnya, kami tidak terlalu mempersoalkannya. Kami tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada pengumuman, tidak ada klarifikasi resmi, apalagi konferensi pers di depan mahasiswa.

Bagiku, Ayu adalah teman dekat. Bahkan, lebih tepatnya seperti saudara sendiri. Kami sama-sama perantau. Kami sama-sama jauh dari keluarga. Ada perasaan senasib yang membuat kami saling memahami.

Namun, semakin lama, semakin banyak teman yang memberikan komentar berbeda.

"Min, kamu ini bagaimana, sih?"

"Bagaimana apanya?"

"Ayu itu kelihatannya suka sama kamu."

Aku tertawa.

"Ah, kamu terlalu banyak menonton sinetron."

"Serius! Kelihatan sekali. Kalau kamu tidak segera menyatakan perasaan, nanti dia kecewa."

Aku tidak langsung menjawab.

Sebenarnya, ada sesuatu yang mulai mengganggu pikiranku. Aku memang dekat dengan Ayu. Aku juga merasa nyaman bersamanya. Bahkan, kadang-kadang aku merindukannya ketika beberapa hari tidak bertemu.

Tetapi aku belum pernah benar-benar memikirkan apakah hubungan kami harus berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.

Kami sering bertengkar saat berbicara. Perbedaan pendapat kecil bisa berkembang menjadi perdebatan panjang. Kadang aku merasa ia terlalu keras kepala. Mungkin ia pun berpikir hal yang sama tentangku.

Anehnya, setelah bertengkar, kami tetap mencari satu sama lain.

Kalau beberapa hari tidak bertemu, muncul rasa ingin tahu. Kalau terlalu lama tidak berbicara, ada sesuatu yang terasa kurang.

Apakah itu cinta?

Entahlah. Saat itu aku belum cukup berani memberi nama pada perasaan sendiri.

Sampai suatu hari, sebuah lagu yang sedang populer ikut mengusik pikiranku. Grup band Jamrud sedang banyak digemari. Salah satu lagunya berjudul Jauh.

Entah mengapa, lagu itu terasa cocok dengan situasiku. Seolah-olah ada seseorang yang sedang mengingatkanku bahwa jarak dan ketidakpastian bisa membuat sebuah perasaan terlambat disampaikan. Akhirnya berujung pada penyesalan.

Teman-temanku kembali menggoda.

"Sudahlah, Min. Jangan sampai nanti kamu menyesal."

"Memangnya kenapa?"

"Kalau memang suka, katakan. Jangan cuma bisa berdebat setiap hari."

Aku tertawa, tetapi kali ini tidak sepenuhnya bisa mengabaikan perkataan mereka.

Mungkin benar. Aku tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik alasan bahwa Ayu hanyalah teman.

Aku menyukainya. Hanya saja, aku belum tahu apakah ia merasakan hal yang sama.


***


Suatu hari, tepatnya tanggal 3 November, aku mengajak Ayu pergi ke sebuah pantai.

Awalnya ia tidak menaruh curiga. Namun ia tetap penasaran, karena saat itu bukanlah akhir pekan apalagi masa liburan. Bahkan saat itu kami berdua ada jadwal kuliah di kelas yang sama.

"Kenapa tiba-tiba mengajak ke pantai?" tanyanya.

"Memangnya tidak boleh?"

"Boleh saja. Tumben kamu yang mengajak."

Aku tertawa.

"Sesekali aku ingin menjadi manusia yang punya inisiatif."

"Bagus. Perlu dicatat tanggalnya." Ledeknya tak kalah sengit.

Aku hanya tertawa.

Hari itu pantai tidak ramai, karena suasana hari kerja. Angin laut bertiup pelan. Ombak datang dan pergi, sementara kami duduk berhadapan dengan hamparan laut yang luas.

Kami berbicara tentang banyak hal. Tentang kuliah, teman-teman, rencana setelah lulus, dan berbagai impian yang ingin kami capai.

Namun, ada satu hal yang sejak tadi berputar-putar di kepalaku.

Aku ingin menyampaikan sesuatu.

Beberapa kali aku mencoba membuka percakapan, tetapi selalu gagal. Ada saja kalimat lain yang keluar. Bahkan, sempat terpikir untuk membatalkan niat itu dan kembali menjadi teman seperti biasa.

Ayu akhirnya menyadari kegugupanku.

"Kamu kenapa? Dari tadi seperti orang kehilangan bahan bicara."

Aku tertawa kecil.

"Biasanya kamu yang banyak bicara, sekarang giliran aku yang bingung."

"Memangnya ada yang mau disampaikan?"

Aku menarik napas.

"Ada."

"Apa?"

Aku menatapnya sejenak.

"Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi aku tidak tahu bagaimana memulainya."

Ayu tersenyum.

"Kalau begitu, mulai saja dari awal. Memangnya susah?"

Aku tertawa. Ternyata nasihat paling sederhana justru datang dari orang yang membuatku gugup.

Akhirnya aku memberanikan diri.

"Yu, selama ini kita memang dekat. Kita sering bersama, sering ngobrol, bahkan sering bertengkar. Tapi akhir-akhir ini aku mulai merasa ada sesuatu yang berbeda."

Ayu diam. Ia mendengarkan.

"Aku tidak tahu apakah kamu merasakan hal yang sama. Aku juga tidak ingin membuat hubungan kita menjadi canggung. Tapi aku merasa sudah waktunya mengatakan bahwa aku menyukaimu."

Untuk beberapa saat, Ayu tidak menjawab.

Aku mulai gelisah.

"Kalau kamu tidak punya perasaan yang sama, tidak apa-apa. Kita tetap bisa berteman seperti sebelumnya."

Ia menunduk sebentar, lalu tersenyum.

"Kamu tahu tidak?"

"Apa?"

"Aku sudah menunggu kamu mengatakan itu."

Aku terdiam.

"Serius?"

Ayu mengangguk.

"Iya. Aku kira kamu memang tidak pernah berpikir ke arah sana."

Aku tertawa lega.

"Jadi, bagaimana?"

Ia menatapku sambil tersenyum.

"Bagaimana apanya?"

"Ya, apakah kamu bersedia?"

Ayu tertawa.

"Pertanyaanmu seperti sedang mengisi formulir pendaftaran."

Aku ikut tertawa. Ketegangan yang sejak tadi kurasakan perlahan menghilang.

Dan hari itu, di sebuah pantai, hubungan kami berubah.

Dua orang yang selama ini dianggap pacaran oleh teman-temannya akhirnya benar-benar menjadi sepasang kekasih.

Ketika kembali ke kampus, tentu saja kabar itu segera menyebar. Teman-teman yang selama ini sering menggoda kami merasa mendapatkan kemenangan besar.

"Nah, akhirnya! Apa kubilang?"

Aku hanya tertawa.

Ayu pun tidak kalah senang.

Sejak hari itu, kami menjalani hubungan seperti pasangan mahasiswa pada umumnya. Ada perhatian, ada kerinduan, ada kebersamaan, dan tentu saja, ada pertengkaran.

Kami tetap menjadi dua orang dengan karakter yang tidak selalu sama. Kadang perbedaan pendapat membuat suasana menjadi panas. Tetapi setelah beberapa waktu, kami kembali mencari satu sama lain.

Kami pernah saling diam, tetapi tidak pernah benar-benar betah berjauhan.

Lebih dari setahun hubungan itu berjalan. Kami melewati berbagai kesibukan perkuliahan, kegiatan organisasi, diskusi, dan tugas-tugas akademik.

Sampai akhirnya, hari yang kami tunggu tiba.

Hari wisuda.


***


Hari wisuda menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam perjalanan kami.

Kami akhirnya menyelesaikan pendidikan S1. Setelah bertahun-tahun menjalani perkuliahan, menghadapi tugas, ujian, diskusi, dan berbagai kesibukan kampus, tibalah saatnya kami mengenakan toga.

Orang tua kami hadir. Untuk pertama kalinya, keluarga kami saling bertemu.

Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika melihat orang tua tersenyum menyaksikan anaknya menyelesaikan pendidikan. Di antara keramaian wisuda, aku dan Ayu juga menyimpan harapan yang sama.

Kami ingin hubungan ini tidak berhenti sampai di sini.

Namun, harapan itu belum pernah benar-benar kami bicarakan secara tuntas.

Mungkin karena kami masih muda. Mungkin juga karena kami masih terlalu sibuk memikirkan masa depan masing-masing.

Setelah wisuda, kami kembali ke kampung halaman. Ayu pulang ke daerah asalnya. Aku pun kembali ke kampung halamanku.

Hubungan yang sebelumnya begitu mudah dijalani karena hampir setiap hari bertemu, kini berubah menjadi hubungan jarak jauh. 

Long Distance Relationship (LDR)

Pada masa itu, belum ada kemudahan komunikasi seperti sekarang. Tidak ada panggilan video yang bisa membuat kami saling melihat wajah setiap saat. Tidak ada pesan instan yang selalu terhubung dengan internet.

Kami hanya mengandalkan telepon dan SMS.

Kadang aku menunggu pesan darinya. Kadang ia menunggu telepon dariku. Ada saat-saat ketika kami bisa berbicara lama, tetapi ada pula hari-hari ketika kesibukan membuat komunikasi terasa semakin terbatas.

Ayu mulai sering menyinggung masa depan hubungan kami.

"Kalau nanti kita menikah, kamu mau tinggal di mana?" tanyanya suatu malam melalui telepon.

Aku tersenyum, meskipun ia tidak bisa melihatnya.

"Memangnya kamu sudah siap menikah?"

"Ya, aku bertanya saja."

"Belum tahu. Kita lihat nanti."

Jawaban seperti itu sering keluar dariku. Bukan karena aku tidak ingin menikahinya, tetapi karena ada banyak hal yang belum bisa kupastikan.

Aku tahu Ayu menginginkan hubungan yang lebih jelas. Ia ingin tahu ke mana arah hubungan kami. Ia ingin kepastian, bukan sekadar janji yang terus ditunda.

Sementara itu, aku sedang menghadapi kenyataan yang tidak sederhana.

Setelah lulus kuliah, aku belum memiliki pekerjaan tetap. Status ekonomiku belum jelas. Aku masih harus memikirkan bagaimana membangun kehidupan sendiri, apalagi jika kelak harus membangun rumah tangga.

Ada persoalan lain yang juga terus menghantuiku.

Ayu adalah anak tunggal. Jika kami menikah, besar kemungkinan aku harus tinggal bersama keluarganya. Sementara orang tuaku kurang setuju jika aku harus meninggalkan kampung halaman dan menetap jauh dari mereka.

Aku berada di antara dua keadaan yang sama-sama sulit.

Di satu sisi, aku ingin bersama Ayu. Di sisi lain, aku belum memiliki keberanian untuk mengambil keputusan besar dengan kondisi yang belum pasti.

Aku tidak ingin menikah hanya bermodalkan cinta, lalu membuatnya hidup dalam kesulitan karena ketidaksiapanku.

Namun, waktu tidak pernah menunggu seseorang sampai benar-benar siap.

Suatu hari, Ayu mulai bercerita bahwa ada beberapa orang yang datang melamarnya langsung kepada orang tuanya.

Awalnya aku mencoba bersikap biasa.

"Bagaimana orangnya?" tanyaku.

"Ya, ada beberapa. Orang tua juga sudah mengenal mereka."

"Terus, bagaimana menurutmu?"

"Aku belum memberikan jawaban."

Aku terdiam.

Percakapan itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Ayu, tetapi mungkin ia menunggu aku mengatakan sesuatu terlebih dahulu.

Beberapa waktu kemudian, pembicaraan tentang lamaran itu kembali muncul.

Aku semakin gelisah.

Aku tahu Ayu sedang menunggu kepastian dariku. Aku tahu ia ingin mendengar bahwa aku akan datang, menemui orang tuanya, dan membicarakan masa depan kami.

Tetapi aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang belum sanggup kulakukan.

Bukan karena aku tidak mencintainya.

Justru karena aku mencintainya, aku merasa tidak pantas memberikan janji yang belum mampu kutepati.

Aku berusaha mencari pekerjaan. Aku mencoba membangun masa depan. Aku ingin datang kepadanya dengan sesuatu yang bisa membuatnya merasa aman. Namun, keadaan belum berpihak kepadaku.

Pada akhirnya, tibalah sebuah percakapan yang paling tidak ingin kulakukan.

Malam itu, melalui telepon, aku mendengar suaranya.

"Jadi, bagaimana hubungan kita selanjutnya?"

Aku menarik napas panjang.

"Ayu, aku ingin sekali bisa menikah denganmu."

"Kalau begitu, kapan?"

Aku terdiam cukup lama.

"Aku belum tahu."

Di seberang telepon, tidak ada suara.

Aku tahu jawabanku telah melukai hatinya. Namun, aku tidak punya jawaban lain yang lebih jujur.

"Aku belum memiliki pekerjaan yang jelas. Aku juga belum tahu bagaimana menyelesaikan persoalan tempat tinggal dan keluarga. Aku tidak ingin membawamu ke dalam kehidupan yang belum bisa kupastikan."

Ayu tetap diam.

Aku melanjutkan dengan suara yang semakin berat.

"Kalau memang ada orang yang datang melamarmu, dan kamu serta orang tuamu merasa cocok, silakan pertimbangkan. Aku tidak ingin menghalangi masa depanmu hanya karena aku belum sanggup memberikan kepastian."

Kalimat itu keluar dengan sangat berat.

Aku tahu apa artinya.

Aku sedang memberikan izin kepada perempuan yang kucintai untuk menerima pinangan orang lain.

Bukan karena aku tidak ingin memperjuangkannya. Bukan pula karena perasaanku telah berubah. Aku hanya merasa belum mampu menjadi seseorang yang bisa memberinya kepastian.

Ayu tidak banyak bicara malam itu.

Dan sejak saat itu, hubungan kami perlahan berakhir.

Beberapa waktu kemudian, aku mendengar kabar bahwa Ayu akhirnya menikah dengan orang lain.

Aku tidak marah. Aku juga tidak menyalahkannya. Ia berhak mendapatkan kebahagiaan dan kepastian yang selama itu ia tunggu.

Jika ada seseorang yang harus merasa bersalah, mungkin akulah orangnya.

Bukan karena aku tidak pernah mencintainya, melainkan karena aku pernah memiliki kesempatan untuk memperjuangkan seseorang, tetapi tidak cukup kuat untuk memastikan langkahku sendiri.

Aku masih mengingat masa-masa ketika kami berdiskusi di kampus, berjalan berdua, saling menggoda, dan bertengkar karena persoalan-persoalan kecil.

Aku juga masih mengingat pantai tempat aku akhirnya menyatakan perasaan.

Dulu, aku mengira pantai itu menjadi awal dari perjalanan cinta kami.

Ternyata, ia juga menjadi bagian dari kenangan yang suatu hari harus kuterima sebagai masa lalu.

Dan setiap kali lagu Jauh dari Jamrud terdengar, ada satu masa yang kembali hadir dalam ingatanku.

Tentang seorang perempuan bernama Ayu.

Tentang dua perantau yang pernah saling menemukan di kampus yang sama.

Tentang cinta yang pernah tumbuh dengan indah, tetapi tidak cukup kuat menghadapi jarak, keadaan, dan ketidakpastian.

Minggu, 01 November 2026

KEJUTAN DI ATAS KAPUAS


Ada banyak cara untuk membuat seseorang merasa istimewa. Ada yang memberikan hadiah mahal, mengirimkan bunga, atau mengajaknya makan malam di tempat romantis. Namun, bagiku, kejutan terbaik adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

Dan kali ini, Syahnaz menjadi orang yang ingin kubuat tersenyum dengan cara yang sedikit berbeda.

Hari ulang tahunnya semakin dekat. Seperti kebanyakan perempuan, ia tentu ingin merayakan hari istimewanya bersama orang-orang terdekat. Salah satu rencananya adalah makan siang di sebuah restoran terapung yang berada di tepian Sungai Kapuas, sungai kebanggaan masyarakat di kotaku.

Tempat itu memang istimewa. Restoran berdiri di atas aliran sungai yang tenang. Dari sana, pengunjung bisa menikmati hidangan sambil menyaksikan perahu-perahu melintas. Angin sungai bertiup lembut, sesekali membawa aroma air dan kehidupan kota yang terasa begitu akrab.

Syahnaz sudah membuat janji dengan April, sahabat karibnya. Mereka berdua memang sangat dekat. Bahkan, Syahnaz sering menyebut April sebagai soulmate-nya. Kalau mereka sudah bertemu, percakapan bisa berlangsung berjam-jam. Kadang membicarakan hal penting, kadang hanya tertawa karena sesuatu yang sebenarnya tidak lucu.

Suatu hari, Syahnaz mengajakku ikut merayakan ulang tahunnya.

"Besok ikut, ya. Kita makan siang di restoran terapung. Aku, kamu, sama April."

Aku tersenyum. Dalam hati, tentu saja aku ingin sekali ikut. Bahkan, sebenarnya aku sudah memiliki rencana sendiri untuk hari itu.

Namun, justru karena ingin memberikan kejutan, aku harus berpura-pura tidak bisa hadir.

"Maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut."

Wajahnya sedikit berubah.

"Kenapa?"

"Ada beberapa urusan toko yang harus kuselesaikan. Belum lagi urusan sekolah. Kamu tahu sendiri, akhir-akhir ini pekerjaanku cukup banyak."

Memang begitulah kehidupanku saat itu. Selain mendirikan dan mengelola sekolah serta mengajar di beberapa tempat, aku juga menjalankan usaha fotokopi, penjualan alat tulis kantor, dan rental komputer. Kadang-kadang aku merasa memiliki beberapa pekerjaan sekaligus, tetapi hanya satu tubuh untuk mengerjakannya.

"Yah, padahal aku ingin kita makan bersama," katanya pelan.

Aku berusaha tersenyum seolah-olah benar-benar menyesal.

"Maaf, ya. Kalian bersenang-senang saja. Jangan lupa pesan makanan yang enak."

"Baiklah. Tapi rugi kamu tidak ikut."

Aku tertawa kecil.

"Iya, rugi sekali. Apalagi kalau harus kehilangan kesempatan makan gratis."

Ia tertawa, meskipun masih terlihat sedikit kecewa.

Dan jujur saja, melihat wajahnya seperti itu membuatku tidak tega. Rasanya ingin sekali mengatakan bahwa aku sedang menyiapkan sesuatu untuknya. Namun, kejutan memang harus dijaga sampai waktunya tiba.

Setelah percakapan itu, aku segera menghubungi April.

"April, aku punya rencana. Kamu mau membantuku?"

"Rencana apa?"

"Besok, aku ingin memberikan kejutan untuk Syahnaz."

April langsung tertarik.

"Wah, ini menarik. Kejutan seperti apa?"

"Pokoknya, kamu ikuti saja dulu skenarionya. Tapi ada satu syarat."

"Apa?"

"Jangan sampai Syahnaz tahu."

April tertawa.

"Tenang saja. Rahasia ini aman. Aku kan soulmate-nya, masa tidak bisa menyimpan rahasia?"

Aku ikut tertawa.

Dalam hati, aku hanya berharap satu hal: semoga semua rencana berjalan lancar. Sebab, kali ini aku tidak sekadar ingin memberikan hadiah ulang tahun. Aku ingin menghadirkan sebuah kenangan yang suatu hari nanti masih bisa membuatnya tersenyum ketika mengingatnya.


***


Hari yang ditunggu akhirnya tiba.

Pagi itu, Syahnaz dan April bersiap menuju restoran terapung. Aku sengaja tidak banyak menghubunginya agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sementara itu, April sudah memahami tugasnya dengan baik.

Sebelum mereka berangkat, aku sempat mengirim pesan kepada April.

"Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai."

"Siap, Bos!"

"Jangan terlalu sering melihat ponsel. Nanti Syahnaz curiga."

"Tenang. Aku profesional dalam urusan persekongkolan."

Aku tertawa membaca pesannya.

Tak lama kemudian, April mengabarkan bahwa mereka sudah berangkat. Aku mulai bersiap. Hadiah sudah kupersiapkan, dan satu bagian terpenting dari rencana itu tinggal menunggu waktu.

Aku sengaja berangkat setelah mereka lebih dahulu menuju restoran. Perjalanan menuju tepian Kapuas terasa lebih panjang dari biasanya. Bukan karena jaraknya, melainkan karena pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan.

Bagaimana kalau Syahnaz tiba-tiba melihatku?

Bagaimana kalau pihak restoran tidak memahami rencanaku?

Bagaimana kalau penyamaranku justru membuatku terlihat seperti pelayan yang baru pertama kali bekerja?

Aku tersenyum sendiri membayangkannya.

Sesampainya di restoran, aku tidak langsung masuk. Aku menunggu kabar dari April.

Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk.

"Kami sudah sampai. Sekarang sedang memilih tempat duduk."

Aku membalas singkat.

"Baik. Kabari kalau sudah memesan makanan."

Tak lama berselang, April kembali mengirim pesan.

"Sudah pesan. Syahnaz sedang melihat pemandangan sungai. Sepertinya dia menikmati suasananya."

Aku menarik napas lega.

Sekarang waktunya menjalankan rencana.

Sebelumnya, aku sudah menghubungi pihak restoran dan menjelaskan maksud kedatanganku. Aku ingin memberikan kejutan ulang tahun kepada seseorang dengan cara yang tidak biasa. Aku meminta izin untuk berpura-pura menjadi salah satu pelayan yang mengantarkan pesanan ke meja mereka.

Awalnya, pihak restoran tampak sedikit heran. Mungkin mereka jarang menerima permintaan seperti itu. Namun, setelah mendengar penjelasanku, mereka bersedia membantu.

Salah seorang pengelola bahkan tersenyum sambil berkata,

"Baiklah, Pak. Tapi nanti jangan sampai pelanggan kami mengira pelayan baru ini belum pernah mengikuti pelatihan."

Aku tertawa.

"Kalau begitu, mohon bimbingannya. Saya siap belajar menjadi pelayan sehari."

Mereka kemudian meminjamkan seragam lengkap kepadaku. Kemeja, celemek, dan perlengkapan lainnya. Tak lupa aku memakai masker agar penyamaranku semakin sempurna. Aku berganti pakaian di ruang belakang restoran. 

Ketika bercermin, aku hampir tidak mengenali diriku sendiri.

Biasanya aku berdiri di depan kelas, mengajar murid-murid. Kadang duduk di meja toko melayani pelanggan fotokopi. Hari itu, aku justru akan berdiri di hadapan perempuan yang kusayangi sebagai seorang pelayan restoran.

Aku tersenyum.

Ternyata cinta memang bisa membuat seseorang melakukan banyak hal di luar kebiasaannya. Bahkan, seorang guru dan pengelola usaha kecil sepertiku rela mengenakan celemek demi sebuah kejutan. 

Sebelum melangkah keluar, aku memastikan hadiah yang sudah kusiapkan berada di tempatnya.

Aku juga mengingat kembali skenario yang telah disepakati bersama pihak restoran.

Tugas pertamaku sederhana: mengantarkan makanan.

Tugas keduaku jauh lebih sulit, yaitu menahan senyum agar tidak membocorkan identitas sendiri.


***


Dari kejauhan, aku bisa melihat Syahnaz dan April duduk berhadapan. Mereka tampak menikmati suasana restoran. Sesekali keduanya tertawa, mungkin sedang membicarakan sesuatu yang hanya mereka berdua pahami.

Aku memperhatikan Syahnaz beberapa saat.

Hari itu ia terlihat begitu bahagia. Senyumnya sesekali mengembang ketika memandang hamparan Sungai Kapuas. Angin bertiup lembut, membuat suasana makan siang terasa semakin menyenangkan.

Ada sedikit rasa bersalah yang muncul ketika mengingat bahwa sebelumnya aku telah menolak undangannya. Namun, aku berharap kejutan ini bisa menggantikan kekecewaan kecil yang sempat kurasakan di wajahnya.

April melihatku dari kejauhan. Ia memberikan isyarat kecil bahwa semuanya sudah siap.

Aku membalas dengan anggukan.

Seorang pelayan kemudian menyerahkan nampan berisi pesanan mereka. Aku mengambilnya dengan kedua tangan. Di atas nampan itu terdapat hidangan yang sudah mereka pesan, lengkap dengan sesuatu yang sengaja kusiapkan sebagai bagian dari kejutan.

Aku mulai melangkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Semakin dekat dengan meja mereka.

Jantungku berdegup lebih cepat. Aneh sekali. Aku pernah berbicara di depan banyak orang, memimpin acara, mengajar di kelas, bahkan menghadapi berbagai urusan pekerjaan yang rumit. Namun, berjalan beberapa meter menuju meja Syahnaz dengan seragam pelayan justru membuatku gugup.

"Pesanan untuk meja ini," kataku sambil sedikit menundukkan kepala.

April langsung menahan senyum. Ia tahu siapa yang sedang berdiri di hadapan mereka.

Sementara Syahnaz masih sibuk merapikan sesuatu di meja.

"Silakan, Mbak," kataku sopan.

Syahnaz mengangkat wajah.

"Terima kasih, Mas."

Aku meletakkan hidangan satu per satu.

Ia masih belum menyadari apa pun.

Aku sengaja berdiri sedikit lebih lama, memastikan semua hidangan tersusun rapi. Lalu aku mengambil sesuatu yang sudah disiapkan khusus untuknya.

"Dan ini ada tambahan untuk Mbak. Selamat ulang tahun."

Syahnaz tersenyum.

"Terima kasih."

Aku menundukkan kepala sedikit, lalu berkata dengan suara yang sengaja kubuat lebih akrab.

"Semoga panjang umur, sehat selalu, dan semua yang diharapkan segera tercapai."

Syahnaz mulai memperhatikanku.

Ada sesuatu yang terasa familiar dari suara itu.

Ia menatap wajahku lebih lama. Matanya menyipit, seolah sedang mencoba mengingat sesuatu. Aku masih berusaha menahan senyum.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia menatapku sekali lagi.

"Sebentar..."

Aku diam.

"Mas..."

Aku mengangkat wajah.

"Ya, Mbak?"

Ia semakin memperhatikan wajahku. Kemudian matanya membesar. Tangannya yang semula memegang sendok perlahan berhenti bergerak.

"Astaga..."

April yang sejak tadi menahan tawa akhirnya tidak sanggup lagi. Ia menutup mulutnya sambil tertawa kecil.

Syahnaz masih terpaku.

"Ini...?"

Aku tersenyum lebar, lalu sedikit menundukkan kepala seperti seorang pelayan yang sedang menyelesaikan tugasnya.

"Selamat ulang tahun, Syahnaz." Ucapku sambil membuka masker yang masih menutupi separuh wajahku. 

Ia spontan menutup mulut dengan kedua tangannya.

"Ya Allah! Kamu!"

Aku tertawa.

"Iya, aku. Pelayan baru di sini. Mohon dimaklumi kalau pelayanannya agak istimewa."

April langsung tertawa semakin keras.

Syahnaz masih menatapku dengan wajah terkejut, antara ingin tertawa, menangis, dan tidak percaya.

"Kamu bilang tidak bisa datang!"

Aku meletakkan hadiah di hadapannya, lalu menjawab pelan,

"Memang tadi aku tidak bisa datang sebagai tamu."

Aku berhenti sejenak, menatap matanya, lalu melanjutkan.

"Tapi aku tidak pernah bilang tidak akan datang sebagai pelayan."

Syahnaz terdiam.

Aku kemudian tersenyum dan berkata,

"Hari ini, aku tidak ingin sekadar mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu. Aku ingin menjadi bagian dari kejutan yang akan kamu ingat setiap kali melihat Sungai Kapuas."

Untuk sesaat, suasana di meja itu terasa berbeda. Suara percakapan pengunjung lain seolah menjauh. Hanya ada tatapan Syahnaz, senyum April, dan aku yang masih berdiri dengan seragam pelayan.

Syahnaz memandang hadiah di hadapannya, kemudian kembali menatapku.

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Jadi, dari tadi... kamu benar-benar menyamar?"

Aku mengangguk.

"Iya."

Ia tertawa kecil di sela harunya.

"Ya ampun. Aku benar-benar tidak menyangka."

Aku tersenyum.

"Selamat ulang tahun, Syahnaz. Hari ini, biarkan aku yang melayanimu. Bukan karena aku seorang pelayan, tetapi karena aku ingin membuatmu merasa begitu istimewa. Semoga kejutan sederhana ini menjadi salah satu kenangan yang tak terlupakan dalam hidupmu!"

Dan sebelum menjawab, Syahnaz bangkit dari kursinya, menatapku dengan mata yang masih berkaca-kaca, lalu berkata lirih,

"Kamu ini... bagaimana mungkin aku bisa melupakan ulang tahun seperti ini?"