Oleh : Mohammad Amin*
Obsesi peradaban mutakhir dimanifestasikan dalam kemajuan teknologi di segala lini kehidupan yang muara akhirnya adalah mengejar keuntungan ekonomis sebesar-besarnya. Hal ini ditandai dengan suburnya budaya materialisme, konsumerisme dan hedonisme di dalam mental masyarakat.
Anehnya, sebagian masyarakat di belahan Negara yang dianggap paling modern saat ini justru muncul sebuah sikap tidak puas terhadap materi yang mereka miliki, kesadaran ini menggiring mereka pada suatu realitas diri yang terasing atau teralienasi (alienation) dalam gerakan mekanis aktifitas mereka. Dalam kungkungan keterasingan ini mereka tidak lagi menemukan dirinya karena mereka telah menjadi tawanan kerja. Karena itu, dalam suasana masyarakat industrial, liburan weekend (akhir pekan) menjadi sangat bermakna, sebab hanya pada saat itulah seseorang bebas mengekspresikan diri sepenuhnya karena tidak harus bekerja, maka kemudian terkenal sebuah ungkapan yang berbunyi ‘we life for the weekend’ (kita hidup untuk akhir pekan).
Meskipun perangkat teori alienasi sesungguhnya dipinjam dari teori marxisme, tapi problem alienasi yang dikembangkan dalam Islam sangat berbeda secara substantif, karena dalam Islam –sebagaimana pendapat Budi Munawar Rahman- masalah alienasi ini menyangkut masalah makna hidup, yaitu hubungan manusia dengan Sang Khalik, dan karena itu juga menjadi persoalan tauhid, yaitu ketika manusia jatuh dalam sikap syirik atau dikuasai oleh benda-benda atau sesuatu selain Allah SWT, maka dalam keadaan seperti itulah manusia tersebut sebetulnya telah mengalami alienasi.
Di zaman dahulu, orang mengalami alienasi atau syirik tersebut dalam kondisi masyarakat yang dilanda kebodohan sehingga dikenal dengan zaman jahiliyah, tetapi di era modern ini, orang bersikap syirik bukan karena bodoh, tapi lebih karena tidak sadar, atau lebih tepatnya tidak memiliki kesadaran ke-Tuhan-an (rabbaniyah). Menurut Nurcholis Madjid, kesadaran ketuhanan ini menghendaki penghayatan kepada wujud Ilahi sebagai Yang Serba Dekat atau Maha Hadir (omni present). Dari kesadaran inilah berpangkal, bersumber dan memancar seluruh sikap hidup yang benar, dan dengan kesadaran ini pula manusia dibimbing kearah kebajikan yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sementara itu, salah satu ciri masyarakat modern yang paling menonjol menurut Komaruddin Hidayat, adalah sikapnya yang sangat agresif terhadap kemajuan (progress). Di dorong oleh berbagai prestasi yang dicapai oleh Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang berporos pada rasionalitas, masyarakat modern berusaha mematahkan mitos kesakralan alam raya.
Realitas alam raya yang oleh doktrin-doktrin agama selalu dikaitkan dengan selubung metafisika dan kebesaran Sang Pencipta, kini dipahami semata-mata sebagai benda otonom yang tidak ada kaitannya dengan Tuhan. Alam rayapun laksana jam raksasa yang bekerja mengikuti gerak mesin yang telah diciptakan dan diatur sedemikian rupa oleh ‘tukang jam’ yang Maha Super (Tuhan), untuk selanjutnya Tuhan pensiun dan tak ada lagi urusan dengan kehidupan ini. Dengan berbagai prestasi IPTEK itu pula, manusia modern pun semakin merasa yakin untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Tuhan.
Kritik kepada ilmu pengetahuan dan teknologi modern dari sudut pandang Islam ialah karena IPTEK modern tersebut hanya absah secara metodologis tetapi miskin dari segi moral dan etika. Pandangan masyarakat modern yang bertumpu pada supremasi akal serta obsesi yang tinggi terhadap penguasaan ekonomi telah memarginalkan dimensi ‘Rabbaniyah’.
Karena itu, sumbangan terbesar Islam adalah adanya konsep tauhid, yang tidak saja mempersepsikan Tuhan sebagai realitas yang transenden, tapi juga imanen dalam diri manusia. ‘Tuhan lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya’ (QS.50:16). Dalam ayat lain “Dan bila para hamba-Ku bertanya kepada engkau (Muhammad) tentang aku, maka (jawablah) bahwa aku adalah Maha Dekat” (QS.2:186). Tauhid juga menegaskan bahwa Tuhan adalah asal usul dan juga tujuan akhir hidup manusia –termasuk peradaban dan ilmu pengetahuannya.
Dalam bahasa Komaruddin Hidayat, bila ridha Tuhan tidak lagi menjadi pusat orientasi manusia, kualitas kehidupan lalu menjadi rendah. Sebaliknya, dengan menjadikan Tuhan sebagai tujuan akhirnya, manusia akan terbebaskan dari derita kehampaan spiritual, karena Tuhan adalah Pesona Yang Maha Hadir dan Maha Mutlak. Eksistensi yang relative akan lenyap ke dalam eksistensi yang absolut.
Kiranya, kisah syahdu Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail (QS.37: 102) dalam menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya sumber dan tujuan penghambaan sehingga melahirkan ketaatan murni yang tidak dapat digoyahkan oleh kepentingan apapun dapat menjadi teladan dan bahan renungan kita dalam menghadapi Idul Qurban 1431 H ini.
Last but not least, marilah kita simak sebuah petikan puisi Muhammad Iqbal yang berjudul Doa: “Bakarlah dengan api kami segala yang bukan Tuhan/ Apabila umat mencampakkan kunci tauhid/ mereka pecah berantakan/ … / ajarkan kami lagi makna Laa Ilaaha/ bisikkan ke telinga kami Illallaah…!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar