Rabu, 29 Juni 2011

Refleksi Kontekstual Isra' Mi'raj*


IMAN, ILMU DAN KESADARAN

Oleh : Mohammad Amin

Alkisah, sekembalinya dari isra’ mi’raj, Nabi Muhammad SAW menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada masyarakat. Mendengar berita ‘aneh’  tersebut, sebagian dari mereka yang sebelumnya telah telah membenarkan kenabiannya ada yang berbalik murtad, bahkan tak jarang yang mengacau dan membangkitkan fitnah besar.
Sebagian tokoh musyrik tersebut kemudian mengadu kepada Abu Bakar ra.
“Hai Abu Bakar, kawan akrabmu telah menyatakan diri berjalan di malam hari ke bait al-maqdis (Masjid Al-Aqsha, Palestina), lalu ke langit dan kembali lagi menjelang subuh. Bagaimana menurutmu?”
Abu Bakar pun menjawab dengan tenang dan mantap.
“Kalau hal itu dinyatakan olehnya, sungguh aku telah membenarkannya sepenuh hatiku, bahkan yang lebih hebat dari itu!”
Konon, karena peristiwa tersebut, sahabat nabi yang paling sepuh ini digelari al-Shiddiq (yang membenarkan).
Tak puas, tokoh musyrik Quraisy tersebut kembali dan bertanya kepada Nabi.
“Coba terangkan tentang kafilah kami yang telah berangkat ke Syiria. Apakah engkau menemui sesuatu dari mereka? Bagaimana keadaannya dan kapan mereka sampai ke Mekkah?”
Nabi menjawab, “Aku melewati onta-onta milik suku anu di Tan’im (berlokasi tidak jauh dari Mekkah), berjumlah sekian orang, bawaannya sekian, dan keadaannya demikian. Coba tanyakan kalau mereka pulang nanti.”
  Kemudian mereka pun keluar di akhir malam, menunggu kafilah mereka untuk membuktikan keterangan Nabi tersebut. Setelah kafilah datang ternyata semua semua yang dikatakan Nabi Muhammad SAW benar adanya. Akan tetapi akibat sifat keras kepala mereka, sehingga meskipun sudah terbukti kebenarannya, mereka tetap bersikeras tidak mau beriman bahkan menganggapnya sebagai ilmu sihir. (Al-Khaubawi: 1987)
Sekelumit kisah di atas adalah sebagian kecil dari berbagai peristiwa yang berhubungan dengan perjalanan fenomenal Nabi Muhammad SAW dalam Isra’ Mi’raj.
Jika dicermati lebih dalam, ada dua mainstream yang paradox dari kisah tersebut. Antara lain, Abu Bakar ra. yang dikenal sebagai salah satu generasi pertama sahabat nabi yang memeluk Islam (al-Sabiqun al-Awwalun) dengan keimanan yang tertancap kuat dalam jiwanya, tidak sulit untuk meyakini peristiwa isra’ mi’raj Nabi tersebut. Karena iman yang sejati tidak bertumpu pada kekuatan ilmu (pengetahuan) an sich, akan tetapi bersumber dari keyakinan terdalam yang dimanifestasikan dalam perkataan dan perbuatan nyata.
Nah, keimanan yang demikianlah yang dapat membawa pemiliknya mencapai prestasi puncak dambaan setiap muslim, yaitu maqam taqwa, yang di antara cirinya adalah meyakini hal-hal ghaib atau yang berada diluar jangkauan nalar manusia atau supra-rasional (QS. 2: 3)
Sementara itu, musyrikin quraisy –dengan latar belakang keingkaran atau kekafiran akan risalah kenabian Muhammad, saat mendengar berita ‘ganjil’ yang disampaikan nabi, alih-alih beriman, mereka bahkan menuduh semua itu sebagai sihir yang dilakukan Muhammad untuk memperdayai mereka. Karena orang yang kafir, diberi peringatan atau tidak, sama saja. Mereka tetap tidak akan percaya (QS. 2: 6).
Padahal sebagian keterangan Nabi tersebut sudah mereka buktikan sendiri kebenarannya. Hal ini menunjukkan bahwa, ilmu (bukti pengetahuan) yang mereka miliki tidak otomatis menggiring mereka pada sebuah ‘kesadaran’  (hidayah), sebaliknya justru semakin membutakan hati mereka.
Nabi sendiri pernah bersabda, bahwa barang siapa yang bertambah ilmunya, tetapi tidak berdampak pada bertambahnya hidayah atau kesadaran aplikatifnya, maka dia tidak akan semakin dekat dengan Sang Pencipta bahkan akan semakin jauh.
Jika ditarik pada konteks Indonesia kekinian, kita mulai dengan pertanyaan, kenapa berbagai kejahatan dalam segala bentuknya begitu marak terjadi?
Sebagian orang menilai, tingkat pendidikan rakyat Indonesia masih terbilang rendah. Tentu penilaian ini tidak salah, meski tidak sepenuhnya benar. Buktinya berbagai kejahatan besar seperti korupsi, pembunuhan, bahkan pelecehan seksual sebagian dilakukan –paling tidak melibatkan- para pejabat yang tidak bisa dikatakan berpendidikan rendah, bahkan menurut salah satu media terkemuka edisi tahun lalu (2004) departemen terkorup adalah departemen agama!
Ironis memang, tapi itulah gambaran moralitas bangsa Indonesia. Ribuan sarjana yang dilahirkan dari ratusan perguruan tinggi tiap tahunnya, tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan etika warga bangsa secara umum. Kondisi ini menunjukkan, ternyata ‘orang pintar’ tidak serta merta menjadikan dirinya sebagai ‘orang benar’. Ilmu saja tidak cukup menggiring pada ‘kesadaran’ bersikap dan bertingkah laku sesuai ajaran Tuhan, tanpa keimanan sejati yang terpancar dari jiwa setiap muslim (QS. 8:3-4).
Semoga momentum peringatan isra’ mi’raj setiap tanggal 27 Rajab ini tidak dilewatkan sebatas seremonial belaka, atau hanya sebagai pelengkap rutinitas PHBI, tapi lebih dari itu adalah dengan menarik berbagai ‘ibrah yang terkandung di dalamnya sebagai landasan pijak dalam bersikap dan bertingkah laku yang lebih baik.
Last but not least, meraih ‘kesadaran’ atau hidayah tidak cukup hanya dengan dengan menunggu anugerah, tapi harus dijemput dengan riadhoh dalam bentuk membiasakan diri dengan amal ibadah dan menjauhi aneka maksiat serta memperbanyak do’a kepada Allah SWT.
Ihdinash shiraathal mustaqiem...
Shiraathal ladziina an’amta alaihim...
Ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin...
Amiiin..
  
*Artikel ini pernah dimuat di Harian Pontianak Post edisi 1 September 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar